Peri Bersayap Kertas

Bulir embun belum pula kering, menggantung diujung daun, bercanda bersama angin tertawa sambut merekahnya pagi. Kamboja riang, bakung tertawa, melati malu-malu tersipu, lihat….lihatlah..! seru anyelir….dia datang bawa hangatnya..!!..kembali anyelir berseru…mari kawan sambut dia…….

Mataku menatap, telingaku mendengar, riuh rendah nyanyian pagi….ramai kicau, semilir berbisik…….kunikmati alunan melodi kehidupan, lalu kukisahkan senduku pada dunia. Kisah satu diantara seribu, kisah duka diantara sejuta.

Ketika itu di hutan cemara, dalam sejuk dibuai teduh ranting daun, kulihat sekelebat bayang indah, walau hanya siluet namun entah…..entah mengapa itu begitu indah, kureka, kubayangkan, kemudian bergetar, menderu,…diantara pintu sang sadar dan pintu sang mimpi ku terlena dalam indahnya seraut wajah… ……tersenyum dan berkata….”mari kemarilah sambut tanganku”……kuraih kugenggam jari-jemari indah itu, kurasakan begitu hangat tak ingin ku lepas lagi, dibawanya aku melintasi pohon-pohon cemara, padang rerumputan dan ilalang, sungai dan bukit bebatuan. Tanpa kata-kata terus ku ikuti dirimu kemanapun kau pergi.

Hingga gagak berseru bersama kepakan sayap yang terkibas……lalu kau lepas genggamanmu terhadapku…………..entah mengapa…tak habis pikir aku dibuatnya……apakah karena aku diam tak berkata-kata?....atau hanya hasrat sesaat yang dirasa?....ohhhh entahlah....kemudian terjatuh aku, tersungkur hingga tulang-tulang rapuh ini terserak….tertunduk, menyesal selalu dan selalu…..apa yang bisa kuperbuat, aku hanyalah bocah tanpa kata, bocah dalam diam tanpa bicara, bocah kelabu tanpa biru.

Kau adalah peri bersayap kertas………….ahhhhh….andai saja kutahu yang kau harapkan adalah sebaris kata-kata, tentu aku akan sekuat tenaga berbicara walau bibir ini beku walau lidah ini kelu membatu. Dengan cara apakah lagi agar kudapat bertemu kembali denganmu wahai peri bersayap kertas…….mungkinkah kau terbang dengan sayap rapuhmu?.......kembali ku meratap dan berkata dalam hati …..”tak mungkin”…..sayapmu bukan untuk terbang wahai peri……sayapmu adalah sayap yang menjadikanmu indah…..bukan…bukan untuk terbang……….ohhhhhhhhhhhhh………….kembali kutelusuri jalan-jalan bukit hutan cemara, berharap apa yang kuharap menjadi nyata…..namun apa gerangan mimpi-mimpi itu kembali menjadi hayalan, terbang, dan terbakar panasnya angan-angan…..hingga kembalilah aku disini…membayang sebuah wajah pada bulir-bulir embun di pekarangan, bayangan yang tak kunjung kutemukan………………..


Bandung 03 Desember 2010


Comments :

0 Comment to “Peri Bersayap Kertas”

Posting Komentar

 

Readers

Facebook Reader

Check PageRank
Add to Technorati Favorites


My blog is worth $564.54.
How much is your blog worth?