Payung dan Sejarahnya

Pernahkah anda mendengar peribahasa “sedia payung sebelum hujan”, pastinya anda sering mendengarnya, tapi bukan peribahasa yang bakal saya babar pada posting Blog saya kali ini, melainkan tentang Payung. Payung adalah suatu alat yang sangat berguna dikala hari panas ataupun hujan, dapat melindungi diri kita dari terik matahari ataupun dari rintik hujan yang dapat membuat basah. Namun tahukah anda mengenai sejarah dari payung ini? Yuk kita sama-sama cari tahu.

Pada awal 3500 tahun yang lalu, keberadaan payung telah ditemukan di Tiongkok walau masih dalam bentuk yang sederhana. Sehingga tak heran apabila banyak yang menyebutkan bahwa Payung telah tercipta sekitar 4000 tahun yang lalu. Bukti ini dapat dilihat pada karya seni dan artefak-artefak kuno yang ditemukan di Mesir, Syria, Yunani dan Cina. Mengenai ditemukannya payung, ada banyak legenda-legenda dan cerita rakyat Tiongkok yang menceritakannya, satu diantaranya paling popular dan tersebar luas adalah cerita “Luban Penemu Payung”. Luban adalah Bapak Pertukangan di Tiongkok.

Menurut catatan yang ada pada Kepingan Batu Giok, alat yang disebut payung ini ditemukan karena Luban kasihan pada isterinya, yang sangat peduli dan perhatian kepada kerja keras suaminya. Konon dalam kisah yang diceritakan pada legenda yang ada, Setiap hari Luban dibawakan makanan oleh isterinya yang bernama Yun, dimana Yun sering kali terkena hujan deras ketika itu. Karena kasihan pada istrinya maka Luban membuat paviliun di sepanjang jalan supaya istrinya tidak kehujanan, namun hal ini masih kurang praktis. Lalu kemudian, berdasarkan inspirasi dari anak-anak yang menggunakan daun bunga teratai sebagai perlindungan dari hujan, dia menciptakan payung. Payung pertama dibuat dari sebuah rangka fleksibel yang ditutupi dengan kain atau kertas yang dilapisi lilin untuk membuatnya tahan air.

Di daratan Tiongkok kuno, payung bukan hanya dipakai sebagai pelindung dari panas dan hujan, akan tetapi juga memiliki makna tersendiri dalam strata sosial masyarakat pada masa itu. Pada akhir Dinasti Wei, payung digunakan dalam upacara-upacara dan tata cara kenegaraan pejabat-pejabat tinggi, payung ini diberi nama atau disebut “Payung Luo”. Menurut kebudayaan yang berlaku pada saat itu, Payung Luo adalah simbol dari kedudukan dan status bagi para pejabat. Sebagai contoh, para pejabat dari Dinasti Han yang menjabat pada kedudukan yang tidak begitu tinggi menggunakan payung berwarna Hijau dan Kaisar Dinasti Song menggunakan payung berwarna kuning dan merah. Karena payung sering digunakan dalam perjalanan inspeksi kaisar atau pejabat senior di zaman dulu maka payung-pun bisa bermakna menunjukkan perlindungan terhadap rakyat. Payung pada masa Tiongkok kuno melambangkan kekayaan dan kehormatan dan sering digunakan dalam upacara–upacara pernikahan. Bahkan payung juga sering digunakan dalam Opera, Lagu dan Tari, serta Seni Akrobatik.

Seiring meningkatnya pertukaran budaya dengan negara asing, maka menyebabkan payung secara bertahap menyebar ke luar negeri. Sebagai contoh, Jepang telah mengirimkan 19 utusannya ke Dinasti Tang untuk mempelajari kebudayaan Tiongkok. Dengan demikian, secara tidak langsung teknik pembuatan payung sudah diperkenalkan di Jepang. Pada suatu kesempatan pengusaha Inggris membawa payung ke negaranya setelah datang ke Tiongkok, yang membangkitkan pengaruh besar di Inggris Raya. Sampai pertengahan abad ke-19 payung telah menjadi suatu keharusan bagi orang–orang Inggris.

Di Eropa sendiri pada mulanya payung atau umbrella atau parasol digunakan sebagai tabir surya. Kata Umbrella adalah suatu kata yang berasal dari kata “Umbra” yang berakar dari bahasa latin yang artinya bayang-bayang. Pada awal abad 16, payung menjadi populer dibarat terutama di negera-negara Eropa Utara pada saat musim hujan. Pada awalnya payung dianggap sebagai aksesori yang hanya cocok bagi perempuan. Namun suatu ketika seorang pengembara dan penulis dari Persia bernama Jonas Hanway (1712-1786) membawa dan mempergunakan payung di depan umum di Inggris, beliau pula yang mempulerkan penggunaan payung di kalangan laki-laki. Yang pada perkembangan selanjutnya Para laki-laki Inggris kerap menyebut payung dengan sebutan “hanway”, mengambil kata dari yang mempopulerkannya.

Toko payung di Eropa pertama kali berdiri di Kota London Inggris yang bernama “James Smith and Sons”. Toko ini sampai sekarang masih berdiri dan masih terletak di jalan 53 New Oxford St., di London, England. Pada awalnya payung Eropa terbuat dari kayu atau tulang paus dan tudungnya terbuat dari Alpaca atau kanvas berminyak. Sedangkan pegangan lengkungnya terbuat dari kayu eboni. Pada tahun 1852, Samuel Fox menemukan desain payung berangka baja, Fox pula yang mendirikan “English Steels Company” di Inggris.

Nah, seperti itulah sekilas tentang sejarah Payung, hingga saat ini inovasi pada payung terus berlanjut, hingga banyak sekali perusahaan-perusahaan pembuat payung, hingga berjenis jenis payungpun dibuat dari yang konvensional, yang bisa dilipat hingga payung otomatis, tidak itu saja saat ini payungpung mempunyai banyak sekali pilhan warna.

Sumber :
Wikipedia
www.erabaru.net
Archive.kaskus.us/thread/4450997

Comments :

2 Comment to “Payung dan Sejarahnya”
Julie Nova mengatakan...
on 

Agen Judi | Agen Bola | Agen Sbobet

Agen Sbobet
Agen Judi
Agen Bola
Agen Judi Online
Agen Casino
Prediksi Bola
Agen Tangkas
Agen Poker
Agen IBCBET
Agen 1sCasino

Putri Nur Afifah mengatakan...
on 

Pabrikjamdinding.com barang promosi order seluruh Indonesia

Posting Komentar

 

Readers

Facebook Reader

Check PageRank
Add to Technorati Favorites


My blog is worth $564.54.
How much is your blog worth?