Mungkin bagi penikmat musik Metal atau Extreme Metal sudah tidak asing lagi dengan nama band yang satu ini, salah satu band tersukses asal Inggris yang mungkin bagi sebagian orang layak disandingkan dengan pendahulunya yaitu Iron Maiden. Namun begitu, band ini mempunyai latar belakang dan aliran yang sedikit berbeda dengan Iron Maiden walau terkadang mereka juga memainkan Cover dari trek legenda Iron Maiden seperti “Hallowed Be Thy Name” ataupun “Fear of The Dark”. Cradle of Filth begitulah nama dari band ini,Band Vampiric ini berdiri pada tahun 1991 di Ipswich, Suffolk, daerah ini terkenal dengan legenda-legenda penyihir Inggris-nya, dengan motor utama kakak beradik Paul Ryan dan Benjamin Ryan. Kakak beradik ini berambisi ingin membentuk sebuah band dan berangan-angan menjadi band terkenal di dunia, dengan usaha keras dan kegigihan mereka akhirnya mengajak Daniel Lloyd Davey, Jon Richard dan Darren White untuk bergabung, maka terbentuklah formasi awal Cradle of Filth yang berformasikan Paul Ryan (Gitar), Benjamin Ryan (Keyboard), Jon Richard (Bass), Darren White (Drum) dan Daniel L. Davey (Vokal).
Pada awal berdirinya genre musik yang mereka mainkan adalah Death Metal, Proses rekaman pertama yang mereka dilakukan adalah pada tahun 1992. Pada walnya mereka membuat sebuah split berjudul “A Pungent and Sexual Miasma”. Selain split, pada tahun yang sama mereka mengeluarkan 4 demo, antara lain “Orgiastic Pleasures Foul”, “The Black Goddess Rises”, “Invoking The Unclean” dan “Total Fucking Darkness”. Secara keseluruhan, demo-demo mereka masih dominan di genre Death Metal, walaupun sudah muncul bibit-bibit Symphonic di opus mereka.
Dua tahun setelah pembuatan demo mereka sebuah label yang bernama Cacophonus tertarik dengan demo yang mereka buat, setelah melalui negosiasi akhirnya merekapun teken kontrak dengan label tersebut dan mengeluarkan album full-length pertama mereka, “Principle of Evil Made Flash” Suatu opus klasik dari Cradle of Filth. Pada album ini terasa sekali perubahan genre dalam lagu-lagu mereka, permainan mereka telah berubah dan membelot ke Black Metal pada album ini. Tidak hanya itu bahkan merekapun berani bereksperimen dengan memasukkan unsur Orkestra dan Choir di dalam album ini, sehingga didapatlah istilah Symphonic-Black Metal untuk album ini. Hanya saja sound yang dihasilkan pada album ini masih kental dengan Black Metal klasik yang “mentah” dan "Chaos". Namun walau begitu mereka terbilang sukses pada peluncuran perdana mereka. Kesuksesan mereka tidak diiringi dengan solidnya para personil karena pada tahun pertama kesuksesan mereka ini, Paul Ryan dan Benjamin Ryan hengkang dari Cradle of Filth dan membentuk band baru dengan nama Blood Divine. Sekeluarnya Paul Ryan dan Benjamin Ryan maka masuklah Gian Piras dan Damien Gregori menggantikan posisi Paul Ryan dan Benjamin Ryan.
Pada tahun 1996, “Dusk…and Her Embrace”, album kedua Cradle of Filth rilis. Pada album ini mereka menghasilkan permainan yang lebih matang daripada di album pertama mereka. Bahkan ada yang menganggap album ini merupakan opus terbaik mereka. Permainan Symphonic mereka bercampur dengan aroma Gothic yang tidak pernah mati di kegelapan. Lalu dua tahun setelahnya, mereka merilis sebuah album yang dapat dianggap legendaris, “Cruelty and The Beast”. Album mereka kali ini secara khusus terkonsep, pada album ini mereka menceritakan kisah nyata seorang Countess Hungaria bernama Elizabeth Bathory yang hobi mandi darah gadis muda. Korban sang Countess ini lebih dari 600 jiwa dan semuanya mati kehabisan darah karena lehernya digorok dan digantung terbalik di atas bathtub sang Countess. Sang vokalis, Dani Filth (demikian namanya disebut), begitu mengagumi sang Countess, seperti yang tersirat di lirik “Bathory Aria”, salah satu trek terpanjang di album ini. Setahun setelah merilis album keduanya ini Cradle of Filth merilis sebuah Extended Playing (EP) berjudul “From The Cradle To Enslave” yang berisi 6 trek original dan 1 trek bonus. EP ini menandakan bangkitnya ego sang leader, Dani Filth.
Pada sekitar tahun 2000 Cradle of Filth kembali merilis album konsep “Midian”. Album ini jelas berbeda dengan album sebelumnya, pada album ini konsep mereka bercerita tentang tokoh fiksi di novel karya Lovercraft, yaitu seorang Psycho yang doyan membunuh tanpa sebab dan yang meyakini akan mendapatkan kebenaran dirinya di gerbang Midian. Album ini merupakan pijakan awal bagi Cradle of Filth yang melakukan world tour. Kemudian pada tahun 2001, album “Bitter Suites to Succubi” rilis.Tapi album ini tidak mendapatkan respon yang baik dari para anggota The Order of Dragon, fansclub resmi Cradle of Filth.
Selanjutnya, pada tahun 2002 mereka merilis album live dalam 2 versi, yaitu “Eleven Burial Masses” dan “Live Bait For The Dead”. Versi pertama merupakan murni album live, sedangkan yang kedua adalah album live yang ditambah 8 trek bonus, yang kebanyakan adalah versi remix dari trek-trek mereka di album-album sebelumnya.
Pada titik ini, Cradle of Filth terlihat seperti tidak bertaring lagi dan tidak sedahsyat dulu .Banyak yang meragukan output mereka selanjutnya. Maka Cradle of Filth seakan mengerti apa yang dikatakan orang-orang lalu merespon dengan merilis “Damnation and a Day” pada tahun 2003. Album mereka ini pada dasarnya memiliki konsep, tapi tidak mengenai seorang tokoh, melainkan mengenai kitab Wahyu di dalam Perjanjian Baru. Kebanyakan bercerita tentang kejatuhan manusia dan hari penghakiman, suatu tema yang Apokaliptik. Yang perlu dicatat pada album ini adalah gaya permainan mereka yang mulai membelot ke Extreme Metal karena mereka tidak lagi bermain sepenuhnya di Symphony-Black. Album ini menandai perubahan yang dilakukan Cradle of Filth pada musik-musiknya ke depan. Tidak sedikit pula yang mengidolakan album ini.
Setelah mengguncang dunia dengan “Damnation and a Day”, pada tahun 2004 Cradle of Filth merilis “Nymphetamine”. Di album ini, Dani Filth menggandeng Liv Kristine leader/pentolan band Gothic Metal asal Jerman, “Leaves’ Eyes” untuk berduet dalam trek yang sama dengan nama album ini. Duet yang mereka ciptakan cukup indah, bagaikan Beauty and The Beast dalam skenario Gothic. Vokal Soprano yang anggun milik Liv bercampur growl ala Dani yang mirip makhluk malam yang tersayat. Tercatat terdapat 2 trek Nymphetamine di album ini, yaitu versi Fix dan versi Overdose. Versi Fix merupakan trek asli duet antara Dani dan Liv. Sedangkan versi Overdose adalah versi extreme dari Nymphetamine, walaupun pada tengah-tengah trek, versi Fix tetap dimasukkan. Singkatnya, “Nymphetamine” cukup sukses di pasaran, bahkan menjangkau telinga-telinga metal amatir dengan ramuan Extreme-Gothic Metal.
Kemudian 2 tahun berselang, tahun 2006 album ke-8 mereka rilis.”Thornography” yang sebelumnya dudahului dengan EP “Thornographic” ini tidak sesukses “Nymphetamine”. Di dalam album ini, trek “Tonight In Flames” dan “The Foetus of A New Day Kicking” menjadi ciri khas album ini. Walaupun begitu, banyak “fans tua” yang mencibir trek “The Foetus of A New Day Kicking”. Hal ini wajar saja karena Cradle of Filth sudah kehilangan ciri khas mereka dulu. Banyak dari fans mereka yang mengatakan bahwa Cradle of Filth bukan lagi milik fans, tapi milik para Poser dan Emo (para METALHEADs benci banget sama Posers and Emos…POSER=SUCK,EMO=GAY).
Melihat kenyataan ini Cradle of Filth ingin membayar kesalahannya dengan mengeluarkan album terbarunya pada tahun 2008, “Godspeed On The Devil’s Thunder”. Untuk pertama kalinya sejak album “Cruelty and The Beast”, Cradle of Filth merilis album konsep mengenai seorang tokoh non-fiksi. Tokoh yang diceritakan di album ini adalah seorang bangsawan Perancis bernama Gilles de Rais. De Rais merupakan seorang peraih Nobel yang tidak terkenal dan juga seorang pejuang Perancis yang pernah bertarung melawan Inggris bersama Joan of Arc, wanita Perancis yang berjuang demi Perancis atas dasar penglihatan rohaninya. Yang menjadi titik penceritaannya tentu saja bukan cerita bagaimana De Rais mendapatkan nobel tersebut, tapi bagaimana bangsawan itu berubah menjadi pembunuh berantai dengan kelainan Seksual dan akhirnya menjadi seorang Satanis. Ramuan yang diberikan Cradle of Filth di album ini cukup Atmosforik.Walaupun tidak seperti “Cruelty and The Beast” tapi unsur Symphonic, yang beberapa tahun belakangan ini hilang di opus-opus Cradle of Filth dapat ditemukan.
Pada saat ini formasi Cradle of Filth diisi oleh Daniel L. Davey a.k.a Dani Filth (Vokal), Paul Allender (Gitar), Dave Pybus (Bass), Martin Škaroupka a.k.a Marthus (Drum) dan seorang backing vokal loyal, Sarah Jezebel Deva. Untuk keyboard dan lain-lain, biasanya bersifat additional, seperti Rosie Smith yang sering diajak sebagai live keyboardist. Satu-satunya anggota asli Cradle of Filth hanya Dani Filth. Itulah mengapa Dani Filth “memegang” band ini. Musikalitas mereka kadang tidak murni, tidak lagi idealis karena terlalu dicampuri Industrialisme. Namun walau bagaimanapun mereka tetap memberikan sumbangsih dalam dunia Metal.
Dari berbagai sumber dan dari www.satyroi-et-metallum.blogspot.com
Cradle of Filth
Elizabeth Báthory 1560-1614 (The Blood Countess)
Mungkin wanita ini adalah wanita terkejam yang pernah hidup diatas bumi ini, terlahir dengan status bangsawan yang terpandang dan terhormat. Sejatinya seorang bangsawan adalah seorang yang lemah lembut dan anggun namun berbeda dengan wanita ini hal-hal tersebut tak ada dalam dirinya, kekejaman dan kesadisan kerap mewarnai setiap langkah hidupnya.
Elizabeth Báthory lahir pada tanggal 07 Agustus 1560 di Hungaria Kurang lebih 100 tahun setelah Vlad 'The Impaler' Dracul meninggal, terlahir dari pasangan Georges dan Anna Báthory yang merupakan bangsawan kaya raya dan salah satu keluarga bangsawan paling kaya di Hungaria saat itu. Ia adalah salah satu Countess Hungaria dari keluarga Báthory, keluarga ini terkenal dan diingat karena sistem pertahanan dalam melawan Utsmaniyah, ketika perang berkecamuk. Masa kecil Elizabeth Báthory boleh dibilang serba berkecukupan karena Ia dibesarkan dalam keluarga bangsawan yang serba kecukupan dan mewah.
Kakek buyut Elizabeth Báthory adalah Prince Stephen Báthory yang merupakan salah satu Ksatria yang memimpin pasukan Vlad Dracul ketika dia merebut kembali kekuasaan di Walachia seabad sebelumnya. Keluarga besar Elizabeth Báthory terdiri dari orang-orang terpandang. Salah satu sepupunya adalah Perdana Menteri di Hungaria, seorang lagi adalah Kardinal. Bahkan pamannya, Stephen Báthory kemudian menjadi Raja Polandia. Namun dibalik semua kekayaan, popularitas, keagungan dan kehormatan tersebut keluarga Báthory ini memiliki 'sisi' lainnya yang lebih 'gelap'. Konon disebutkan bahwa salah satu pamannya yang lain adalah seorang Satanis dan Penganut Paganisme sementara seorang sepupunya yang lain memiliki kelainan jiwa dan gemar melakukan kejahatan sexual.
Tahun 1575, di usia 15 tahun Elizabeth menikah dengan Count Ferenc Nádasdy yang usianya sepuluh tahun lebih tua darinya. Dikarenakan sang suami berasal dari bangsawan yang lebih rendah, maka Count Ferenc Nádasdy menggunakan nama Báthory dibelakangnya. Elizabeth tetap menggunakan nama keluarganya yaitu Báthory dan tidak menjadi Nádasdy. Setelah pernikahan yang cukup mewah dan meriah maka Kedua pasangan tersebut kemudian tinggal di Istana Čachtice, istana ini adalah merupakan sebuah kastil di atas pegunungan dengan desa Čachtice dilembah dibawahnya, sungguh sebuah istana yang menawan dan indah. Namun dibalik keindahan dan kemewahan istana tersimpan satu kegundahan dan kegelisahan yang mendalam pada diri Elizabeth Báthory karena Suaminya jarang mendampingi Elizabeth karena Count Ferenc lebih sering berada di medan pertempuran melawan Turki Usmani (Ottoman Empire). Hal inilah yang membuat Ferenc kemudian menjadi terkenal karena keberaniannya di medan pertempuran, bahkan dianggap sebagai pahlawan di Hungaria dengan julukan 'Black Hero of Hungary'.
Elizabeth yang masih muda tentu senantiasa merasa sangat kesepian karena selalu ditinggal sang suami. Disebutkan dia memiliki kebiasaan mengagumi kecantikannya dan kemudian memiliki banyak kekasih gelap yang melayaninya selama sang suami tidak berada di tempat. Elizabeth bahkan pernah melarikan diri bersama kekasih gelapnya namun kemudian kembali lagi dan suaminya memaafkannya. Tetapi hal tersebut tidak mengurangi ketagihan Elizabeth akan kepuasan seksual. Disebutkan juga Elizabeth menjadi seorang biseksual dengan melakukan hubungan lesbian dengan bibinya, Countess Klara Báthory. Entah karena memang ia seorang yang haus akan petualangan seks atau memang tanpa ia sadari kegilaan terus menggerogotinya, entahlah.
Bukan dalam mengumbar nafsu saja yang ia lakukan Elizabeth-pun kemudian mulai terpengaruh dengan satanisme yang diajarkan oleh Dorothea Szentes, biasa disebut Dorka, salah seorang pelayan terdekatnya. Karena pengaruh Dorka yang begitu gencar, Elizabeth mulai menyenangi kepuasan seksual lewat penyiksaan yang dilakukannya terhadap pelayan-pelayan lainnya yang masih muda. Selain Dorka, Elizabeth dibantu beberapa pelayan terdekatnya yaitu; suster Iloona Joo, pelayan pria Johaness Ujvari dan seorang pelayan wanita bernama Anna Darvula, yang merangkap sebagai kekasih Elizabeth.
Bersama para pelayannya tersebut, Elizabeth mengubah Istana Čachtice menjadi pusat teror dan penyiksaan seksual. Para gadis muda yang jadi pelayannya disiksa dengan berbagai bentuk penyiksaan seperti diikat, ditelanjangi lalu dicambuk dan juga menggunakan berbagai alat untuk menyakiti bagian-bagian tubuh tertentu. Hal tersebut sering dan secara terus menerus ia lakukan demi hasrat dan nafsu seks-nya yang abnormal. Hingga pada tahun 1600, Ferenc Nádasdy sang suami meninggal dunia dan dimulailah era teror mengerikan yang sesungguhnya.
Memasuki usia ke-40 tahun, Elizabeth menyadari bahwa kecantikannya mulai memudar. Kulitnya mulai menunjukan tanda-tanda penuaan dan keriput, hal ini sebenarnya lumrah bagi kebanyakan orang karena pada usia tersebut memang kecantikan seseorang lambat laun akan terlihat. Namun ha; ini tidak bisa diterima oleh Elizabeth karena ia adalah pemuja kesempurnaan dan kecantikan dan ia akan melakukan apa saja demi mempertahankan kecantikannya.
Pada suatu ketika seorang pelayaan wanita yang sedang menyisir rambutnya secara tidak sengaja menarik rambut Elizabeth terlalu keras. Elizabeth yang marah karena rambutnya tertarik oleh pelayan tersebut kemudian menampar gadis pelayan malang tersebut dengan kuat dan keras sekali hingga gadis tersebut mengeluarkan darah dari hidungnya. Darah memancar dari hidung gadis itu mengenai telapak tangan Elizabeth. Nah pada Saat itulah Elizabeth disebutkan 'Menduga dan Percaya' bahwa darah gadis muda memancarkan cahaya kemudaan mereka. Entah setan apa yang merasuk dalam dirinya hingga ia percaya akan hal tersebut. Hingga Serta merta dia memerintahkan pelayannya, Johannes Ujvari dan Dorka menelanjangi gadis tersebut, menariknya keatas bak mandi dan memotong urat nadinya. Ketika si gadis meninggal kehabisan darah, Elizabeth segera masuk kedalam bak mandi dan berendam dalam kubangan darah. Dia menemukan apa yang diyakininya sebagai 'Rahasia Awet Muda'.
Sugesti yang ia dapatkan tentang darah yang dapat membuat ia awet muda terus menggelora dalam dirinya hingga ia terus membunuh satu persatu pelayannya. Dan ketika semua pelayan mudanya sudah mati, Elizabeth mulai merekrut gadis muda di desa sekitarnya untuk dijadikan pelayan di Kastilnya. Tak jauh dari para pelayannya terdahulu nasib merekapun semuanya sama , diikat diatas bak mandi kemudian urat nadi mereka dipotong hingga darah mereka menetes habis kedalam bak mandi. Seringkali Elizabeth berendam didalam kolam darah sambil menyaksikan korbannya sekarat meneteskan darah hingga tewas. Sesekali Elizabeth bahkan meminum darah para gadis tersebut untuk mendapatkan apa yang ia sebut “Inner Beauty”. Tak hanya itu, fantasi akan terror dan kesadisannya semakin menjadi bahkan disebutkan korban-korbannya seringkali diikat dimasukan kedalam kerangkeng dan ditarik ke atas, setelah itu lalu ia memerintahkan untuk memanah para korbannya dengan paku-paku yang berlubang yang dibuat khusus, dan ketika darah mulai mengucur ia lalu berdiri dibawah kerangkeng tersebut bak sebuah shower darah ia mandi dibawahnya.
Waktu terus berlalu, hasrat akan keyakinannya tentang obat awet muda abadi terus berlanjut hingga lama kelamaan Elizabeth merasa bahwa darah para gadis desa masih kurang baginya. Demi mendapat darah yang menurutnya lebih berkualitas, Elizabeth mengincar darah para gadis bangsawan rendahan. Dia kemudian melakukan penculikan terhadap gadis-gadis bangsawan untuk dijadikan korbannya. Namun hal tersebut menjadi bumerang baginya. Hilangnya gadis-gadis bangsawan dengan cepat mendapatkan perhatian di kalangan bangsawan, orang-orang berpengaruh, hingga Raja sendiri. Tanggal 30 Desember 1610, pasukan tentara dibawah pimpinan György Thurzó, yang merupakan sepupu Elizabeth sendiri, menyerbu Istana Čachtice di malam hari. Mereka semua terkejut melihat pemandangan yang mereka temukan di dalam Istana Čachtice. Mayat seorang gadis yang pucat kehabisan darah tergeletak diatas meja makan, seorang lainnya yang masih hidup namun sekarat ditemukan terikat di tiang dengan kedua urat nadinya disayat hingga meneteskan darah. Di bagian penjara ditemukan belasan gadis yang sedang ditahan menunggu giliran dibunuh. Kemudian di ruang basement ditemukan lebih dari 50 mayat yang sebagian besar sudah mulai membusuk.
Sekurangnya 650 nama tercatat dalam pengadilan atas Elizabeth Bathory di tahun 1611. Nama-nama itu didapat berdasarkan laporan dari berbagai pihak. Mulai dari keluarga-keluarga petani hingga bangsawan. Elizabeth sendiri tidak pernah didatangkan ke pengadilan untuk diadili secara langsung. Hanya empat pelayannya yang diadili dan kemudian dihukum mati. Raja Hungaria memerintahkan Elizabeth dikurung dalam kamarnya di Istana Čachtice selama sisa hidupnya. Para pekerja kemudian dikerahkan untuk menutup semua pintu dan jendela ruang kamar Elizabeth dengan tembok dengan hanya menyisakan lubang kecil yang digunakan untuk memasukan makanan dan minuman.
Tahun 1614, atau 4 tahun setelah Elizabeth diisolasi dengan tembok di kamarnya sendiri, seorang penjaga melihat makanan yang disajikan untuk Elizabeth tidak tersentuh selama seharian. Penjaga itu kemudian mengintip kedalam dan melihat sang Countess tertelungkup dengan wajah di lantai. Elizabeth “The Blood Countess” Báthory meninggal di usia 54 tahun pada 21 Agustus 1614.
Dalam perjalanan hidupnya, Elizabeth Báthory terkenal sebagai pembunuh berantai dalam sejarah Hungaria dan Slovakia dan diingat sebagai Wanita Berdarah Csejte (sekarang Čachtice). Istana Čachtice merupakan tempat dimana Ia menghabiskan sisa hidupnya. Setelah kematian suaminya, Ia dan empat pembantunya dituduh menyiksa dan membunuh ratusan wanita muda, dengan jumlah yang sangat fantastis sekurangnya sebanyak 650 korban telah ia bunuh. Pada tahun 1610, ia dipenjarakan di Istana Čachtice dan menghabiskan hidupnya disana.
Dari wikipedia dan berbagai sumber
Ludwig Van Beethoven 1770-1827
Ludwig Van Beethoven lahir pada tahun 1770 di kota Bonn, Jerman, bakat musik yang dimilikinya telah tampak jelas ketika ia masih anak-anak dan yang luar biasa adalah buku musik ciptaannya muncul pertama kali pada tahun 1783 di usianya yang sangat belia untuk ukuran pencipta musik kala itu. Di usia remajanya ini ia berkunjung ke kota Wina, di kota ini ia berkenalan dengan Mozart namun pertemuan mereka ini berlangsung singkat sampai ia kembali lagi ke Bonn. Pada tahun 1792 Beethoven kembali ke kota Wina pada tahun ini ia sempat belajar musik dengan Haydn, yang pada saat itu pencipta musik yang tersohor di Wina (Mozart meninggal pada tahun sebelumnya). Beethoven lalu menetap di kota Wina, pada saat itu Wina adalah kiblat musik di Jerman. Cita rasa musik Beethoven yang sangat tinggi selaku pemain piano mengesankan setiap pendengarnya, ia sangat berhasil baik selaku pemain piano maupun sebagai guru musik. Beethoven adalah seorang pencipta musik yang produktif, karya-karyanya mendapat sambutan baik dari masyarakat luas, sehingga sejak umur pertengahan duapuluhan dia sudah mampu menerbitkan dan menjual buku ciptaan musiknya tanpa kesulitan apapun.
Ketika Beethoven berumur di ujung dua puluhan, tanda-tanda ketuliannya mulai tampak. Tak pelak lagi gejala ini amat merisaukan si komponis muda. Tuli buat seorang pencipta musik adalah betul-betul suatu malapetaka. Hingga suatu ketika timbul keinginannya untuk bunuh diri saja. Namun hal itu urung ia lakukan. Tahun-tahun antara 1802-1815 sering dianggap masa pertengahan transisi karier Beethoven. Pada masa itu, akibat ketuliannya yang semakin menghebat, dia mulai menarik diri dan mundur dari pergaulan masyarakat. Ketunarunguannya ini membuat ia frustasi dan membuat orang punya kesan tidak yakin bahwa Beethoven memang betul-betul anti manusia, anti masyarakat, benci bergaul. Kehidupan percintaan Beethoven sungguh menyedihkan dari sekian banyak gadis-gadis muda yang ia kencani tak satupun yang berakhir dengan bahagia hingga ia tak pernah menikah dan mempunyai istri.
Pada usia empat puluhan pendengaran Beethoven seratus persen pekak. Akibatnya, dia tak pernah lagi tampil di muka umum dan semakin menjauhi masyarakat. Hasil karyanya semakin sedikit dan semakin sulit di fahami. Sejak itu dia mencipta terutama buat dirinya sendiri dan beberapa pendengar yang punya idealisme masa depan. Dia pernah bilang kepada seorang kritikus musik, "Ciptaanku ini bukanlah untukmu tetapi untuk masa sesudahmu."
Ini merupakan ironi yang kejam dari sebuah nasib bahwa seorang komponis paling berbakat sepanjang jaman harus tertimpa musibah ketulian semacam itu. Kalau saja Beethoven dengan kekuatan tekad non-manusiawi dalam ketuliannya itu terus tetap menjaga mutu komposisi musiknya, ini akan merupakan hal yang memukau dan brilian. Tetapi, kenyataan lebih mengherankan lagi ketimbang yang dibayangkan dalam masa tahun-tahun ketulian totalnya, Beethoven melakukan ciptaan tidak sekedar setarap dengan apa yang dihasilkan sebelumnya, melainkan umumnya dianggap merupakan hasil karya terbesarnya. Dia meninggal di Wina tahun 1827 pada usia lima puluh tujuh tahun.
Karya Beethoven yang banyak itu termasuk 9 simfoni, 32 sonata piano, 5 piano concerto, 10 sonata untuk piano dan biola, serangkaian kuartet gesek yang menakjubkan, musik vokal, musik teater, dan banyak lagi. Tetapi, yang lebih penting dari jumlah ciptaannya adalah segi kualitasnya. Karyanya merupakan kombinasi luar biasa dari kedalaman perasaan dengan kesempurnaan tata rencana. Beethoven memperagakan bahwa musik instrumental tak bisa lagi dianggap cuma punya nilai seni nomor dua. Ini dibuktikan dari komposisi yang disusunnya yang telah mengangkat musik instrumental itu ke tingkat nilai seni yang amat tinggi.
Beethoven benar-benar seorang pencipta orisinal yang jempolan dan banyak perubahan-perubahan yang dilakukan dan diperkenalkannya mempunyai pengaruh yang abadi. Dia memperluas ukuran sebuah orkestra. Dia menambah panjangnya simfoni dan memperluas daya jangkaunya. Dengan mendemonstrasikan kemungkinan yang hampir tak terbatas yang bisa dihasilkan oleh piano, dia membantu menjadikan piano itu instrumen musik yang paling terkemuka. Beethoven membuka babak transisi dari musik klasik ke musik bergaya romantik dan karyanya merupakan sumber ilham untuk gaya romantik. Dia menanamkan daya pengaruh yang menghunjam pada diri komponis-komponis yang muncul kemudian, termasuk tokoh-tokoh yang memiliki gaya berbeda seperti Brahms, Wagner, Schubert dan Tchaikovsky. Dia juga merintis jalan buat Berlioz, Gustav Mahler, Richard Strauss dan banyak lagi lainnya.
Pablo Picasso 1881-1973
Seni adalah sesuatu yang tak bisa diukur dengan materi, seni adalah curahan jiwa, seni adalah ucapan hati, dan seni adalah suci, berdasar dari kemurnian jiwa yang terdalam. Namun banyak orang bertanya, apa sebetulnya maksud serta tujuan seni itu? untuk apa sih? Apa tanpa seni orang lantas jadi mati tak bernyawa? Jawaban dari semua pertanyaan itu ada di setiap manusia. Coba anda telaah diri anda sendiri, bukankah anda adalah mahakarya seni yang luar biasa dari sang pencipta? Tanpa seni manusia tak akan hidup, tanpa seni manusia akan senantiasa kaku dan walaupun hidup secara jasmani namun secara ruh dia mati, karena seni yang menghidupkan setiap manusia. Coba lihat disekitar kita apa ada sesuatu yang tidak terjamah oleh seni?
Seorang seniman ternama yang paling berani, paling inovatif, yang melepaskan diri jauh-jauh dari pandangan orang yang memandang bahwa seni adalah semata-mata seni yang biasa-biasa, dan yang dengan sendirinya paling berpengaruh, adalah seorang yang bernama Pablo Picasso. Karya-karya dan gaya seni Picasso yang terus hidup sangat dikagumi banyak orang karena imaginasinya yang terkandung didalamnya, vitalitasnya dan kepekaannya terhadap dunia luar. Picasso merupakan tokoh sentral dalam perkembangan "Kubisme," dan dia juga ternama karena otak yang brilian serta kemampuan tekniknya. Umumnya dia diakui selaku tokoh utama dalam seni modern dan salah seorang yang paling suka kepada hal-hal baru dari semua seniman di sepanjang jaman. Picasso punya kemampuan sempuma dalam hal lukisan gambar realistis. bila dia merasa perlu seperti itu; tetapi, lebih kerap lagi dia memilih mengacak-acak serta mengubah-ubah wajah sesuatu obyek. Pernah suatu waktu dia berkata. "Bila aku mau melukis cangkir, akan kutunjukkan padamu bahwa bentuknya bundar; tetapi itu sesuatu irama umum dan konstruksi lukisan memaksa aku menunjukkan bawa yang namanya bundar itu sebagai suatu yang persegi."
Pablo Ruiz Y Picasso dilahirkan tahun 1881 di kota Malaga, Spanyol. Ayahnya seniman dan guru kesenian. Bakat Pablo muncul dalam usia muda sekali dan dia sudah jadi pelukis jempolan pada umur belasan tahun. Tahun 1904 dia menetap di Paris dan untuk selanjutnya tinggal di Perancis. Lukisan Picasso "Gadis di Depan Cermin" merevolusionerkan perspektip seni modern. Picasso betul-betul seorang seniman yang teramat produktif. Selama kehidupannya selaku seniman yang luar biasa panjang itu sekitar masa waktu tiga perempat abad dia sudah mencipta lebih dari 20.000 hasil seni yang terpisah-pisah satu sama lain, rata-rata lebih dari 5 karya dalam seminggu yang berlangsung selama 75 tahun! Luar biasa, Sebagian terbesar dari waktu itu, karyanya selalu berdiri paling depan dalam hal harga tinggi, karena itu Picasso menjadi orang yang amat kaya raya. Dia meninggal dunia di kota Mougins, Perancis, tahun 1973.
Picasso adalah seorang seniman serba bisa yang jarang ada tolok bandingnya. Kendati sebutan utamanya seorang pelukis, dia juga banyak melakukan karya pahat. Tambahan lagi, dia perancang panggung ballet; dia bergumul dengan seni bikin pot, meninggalkan sejumlah besar karya lithografi, lukisan melalui garis-garis dengan menggunakan pensil atau kapur tulis dari banyak cabang seni lainnya. Tetapi seperti sementara seniman-seniman, Picasso juga tertarik dengan sungguh-sungguh pada masalah politik. Nyatanya, lukisan masyhurnya "Guernica" (1937), diilhami oleh kejadian-kejadian dalam perang saudara Spanyol. Beberapa hasil karya lainnya pun punya arti penting politis.
Banyak seniman-seniman masyhur ditandai oleh satu macam gaya dasar. Tidaklah demikian Picasso. Dia menampilkan ruang luas dari berbagai gaya yang mencengangkan. Kritikus-kritikus seni memberi julukan seperti "periode biru," "periode merah muda," "periode neo-klasik" dan sebagainya. Dia merupakan salah satu dari cikal bakal "Kubisme," Dia kadang ikut serta, kadang menentang perkembangan-perkembangan baru dalam dunia lukis-melukis modern. Mungkin tak ada pelukis dalam sejarah yang sanggup melakukan karya dengan kualitas begitu tinggi dengan lewat begitu banyak gaya dan cara.
Tidak semua aliran seni punya pengaruh berjangka panjang. Meskipun Picasso disanjung-sanjung di abad ke-20, layak dipertanyakan apakah di abad-abad depan kelak penyanjungan itu masih bisa terjadi, ataukah pengaruhnya akan segera musnah dalam waktu tak lama lagi. Sudah jelas, tak ada jaminan yang meyakinkan untuk menjawab pertanyaan macam itu. Tetapi, kata sepakat dari para kritikus seni kontemporer mengatakan bahwa pengaruh Picasso akan tetap punya bobot penting di masa-masa mendatang. Walaupun jelas, kita tidak bisa memastikan kelanjutan dari bobot penting Pablo Picasso seperti bisa kita lakukan terhadap senirnan-seniman yang sudah teruji oleh sang waktu.
William Shakespeare 1564-1616

Penyair besar Inggris, William Shakespeare dilahirkan tahun 1564 di Stratford on Avon, Inggris. Kehidupan masa kecil dan Pendidikan dasar yang ia peroleh cukup lumayan akan tetapi ia tidak sampai pada pendidikan tingkat perguruan tinggi. Hal ini disebabkan karena ia menikah diusia yang sangat muda, ia menikah pada usia 18 tahun (ketika itu usia istrinya adalah 26 tahun). Perkawinannya dengan wanita yang usianya lebih tua ini dikaruniai tiga orang anak, pada saat itu usianya belum genap mencapai 21 tahun.
Perjalanan karier dari Shakespeare ini dimulai ketika ia pergi ke London beberapa tahun setelah kelahiran anak ketiganya, di London ia menjadi anak panggung dan penulis drama, hal ini terus ia lakukan tanpa lelah hingga usianya menginjak usia 30 tahun barulah cahaya keberhasilan mulai bersinar. Dan tatkala usianya menginjak 34 tahun Shakespeare sudah menjadi orang yang kaya dan dianggap penulis drama Inggris terkemuka pada saat itu. Waktu terus berjalan hingga Sepuluh tahun kemudian, dia sudah membuahkan karya-karya besar seperti Julius Caesar, Hamlet, Othello, Macbeth dan King Lear. Sungguh suatu prestasi yang sangat luar biasa dari seorang Shakespeare. Selama kurang lebih 20 tahun merintis karier di London istrinya tetap setia tinggal di Stratford.
Rentang usia Shakespeare cukup singkat ia menghembuskan nafas terakhirnya di tahun 1616 pada usia 52 tahun. Namun dalam rentang usia yang cukup singkat tersebut tangan dingin seorang Shakespeare mampu menciptakan berbagai drama terkenal yang jumlahnya kurang lebih ada 38 termasuk beberapa drama kecil yang pada pembuatannya mungkin ia bekerjasama dengan orang lain, bukan saja drama yang mampu ia ciptakan namun Shakespeare juga menulis 154 sonata dan 3 atau 4 sajak-sajak yang cukup panjang.
Karya-karya Shakespeare begitu abadi, karyanya begitu dihargai oleh para ahli sastra bahkan generasi-generasi penulis drama mempelajari karyanya dan mencoba menirunya atau bahkan mengunggulinya,. Karya-karya Shakespeare secara langsung ataupun tidak mempunyai pengaruh yang cukup besar bagi kemajuan budaya umat manusia
Kahlil Gibran (1883-1931)
Sampai saat ini, belum ada sastrawan Libanon yang namanya dapat disejajarkan dengan Kahlil Gibran. Dalam rentang usianya yang pendek, tak lebih dari 48 tahun, ia telah melahirkan karya yang kemudian jadi abadi. Jejak yang ia tinggalkan menembus waktu, generasi, ras, agama dan budaya. Namanya bahkan acap disandingkan sejajar dengan maestro lain, Blake, Dante, Tagore, Nietzsche, Micheleangelo, Rodin, dan Gothe.
Karya Gibran menjadi abadi dan melegenda bukan hanya karena keindahannya, melainkan karena mengandung ambisi yang dingin tentang kejujuran. Bahkan, "Keindahan ekspresi dan kedalaman misteri yang terkandung dalam syair maupun parabel Gibran telah memenuhi standar tulisan kitab suci," puji John Heynes Holmes, Menteri Urusan Gereja New York, dalam peluncuran buku Gibran, Jesus the Son of Man, 1928.
Nama Gibran bukan hanya mengharumkan Libanon, tapi juga semua kebudayaan, yang mengajarkan bagaimana menjadi manusia atas dasar cinta. Tak heran jika kemudian Gibran seakan menjadi kiblat bagi orang lain untuk ikut mengekspresikan diri. Dia seperti sang nabi, yang dipatuhi jutaan pengikut.
Kahlil Gibran lahir pada tanggal 6 Januari 1883 di Beshari, Libanon. Beshari merupakan daerah yang kerap disinggahi badai, gempa serta petir. Gibran kecil acap menatap badai, lidah petir, dan angin yang merontokkan gunung, dari kaca jendela rumahnya. Tak heran bila sejak kecil, mata Gibran sudah terbiasa menangkap fenomena-fenomena alam tersebut. Inilah yang pada masanya nanti banyak mempengaruhi tulisan-tulisannya tentang alam. Kejeniusannya dalam hal menulis sangat mumpuni dipengaruhi kenangan-kenangan masa lalu akan tanah kelahirannya. "Aku merasakan sukmaku bergemuruh, setiap tenaga alam itu tertangkap mataku," tulisnya.
Menginjak usia 10 tahun Gibran kecil bersama Ibunya dan kedua adik perempuannya pindah ke Boston, Amerika Serikat, pada masa ini Gibran mengalami kejutan budaya seperti dialami oleh banyak Imigran lain yang banyak berdatangan ke Amerika Serikat pada akhir abad ke-19. Masa-masa sekolah di kota ini diisi Gibran kecil dengan penuh keceriaan dan Akulturasi maka tak heran bila bahasa dan gayanya dibentuk oleh corak kehidupan Amerika. Namun walau begitu proses Amerikanisasi Gibran hanya berlangsung selama Tiga tahun saja karena setelah itu dia kembali ke Beirut, di mana dia belajar di Madrasah Al-Hikmat (School of Wisdom) sejak tahun 1898 sampai 1901.
Selama awal masa remaja, visinya tentang tanah kelahiran dan masa depannya mulai terbentuk. Tirani kerajaan Ottoman, sifat munafik organisasi gereja, dan peran kaum wanita Asia Barat yang sekadar sebagai pengabdi, mengilhami cara pandangnya yang kemudian dituangkan ke dalam karya-karyanya yang berbahasa Arab.
Pada saat Gibran berusia 19 tahun dia meninggalkan tanah airnya kembali menuju Boston. Namun ingatannya tak pernah lepas sedikitpun dari tanah airnya yaitu Libanon, ingatan Gibran selalu pulang ke Libanon. Dan ia merasa, Eksotisme Timur tak dapat ia temukan di perantauannya. Libanon adalah sumber inspirasi terbesar bagi dirinya, saat di Boston ini pula dia menulis tentang negrinya untuk melepaskan ekspresi dirinya. Hal inilah yang kemudian memberinya kebebasan untuk menggabungkan dua pengalaman budaya yang berbeda menjadi satu. Dari pinggiran rel kereta di Boston, dia mengasah bakat melukisnya. "Aku bisa hidup hanya dengan modal keyakinan," ucapnya. Dan terbukti. Dalam sebuah pameran di tahun 1896, Florence Pierce, seorang guru seni lukis, justru melihat ketajaman bakatnya. Tapi bukan hanya bakat melukis itu yang membetot perhatian orang, karya lirisnya, Al-Mawakib (The Procession) yang melukiskan keindahan pohonan Cedar di Libanon, bahkan membuat orang harus menahan napas. Bukan sesuatu yang aneh. Pegunungan Cedar yang dia gambarkan adalah "kuil tak kasat mata, tempat semesta kesunyian mendatangi diriku." Dan kerinduan pada alam Libanon.
Dunia Barat dan Timur yang dia selami menumbuhkan kesadaran rekonsiliasi antarkutub, yang diwakili Islam dan Kristen. Gibran yakin, apa yang terjadi bukanlah konflik agama, karena pada hal yang paling mendasar, ada kesamaan antara agama itu. Karena itu, meski dibesarkan sebagai Kristen Maronite, Gibran menyatakan keagungan Alquran, dan potensinya bagi inspirasi Spiritual, Sosial, dan Sastra.
Sedangkan terhadap Yesus, Gibran meyakininya sebagai tokoh supremasi semua zaman. " Seniku tak dapat menemukan tempat istirahat yang lebih baik daripada kepribadian Yesus.... Hidupnya adalah simbol perikemanusiaan. Ia akan selalu menjadi tokoh segala zaman, dan dalam dirinya, kita akan selalu menemukan Misteri, Gairah, Cinta, Imajinasi, Tragedi, Keindahan, Romansa, dan Kebenaran," kata Gibran dalam The Crucified.
Gibran menulis drama pertamanya di Paris dari tahun 1901 hingga 1902. Saat itu usianya menginjak 20 tahun. Karya pertamanya, Spirits Rebellious ditulis di Boston dan diterbitkan di New York, yang berisi empat cerita kontemporer sebagai sindiran keras yang meyerang orang-orang korup yang dilihatnya. Akibatnya, Gibran menerima hukuman berupa pengucilan dari gereja Maronite. Akan tetapi, sindiran-sindiran Gibran itu tiba-tiba dianggap sebagai harapan dan suara pembebasan bagi kaum tertindas di Asia Barat.
Masa-masa pembentukan diri Gibran selama di Paris tercerai-berai ketika Gibran menerima kabar dari Konsulat Jendral Turki, bahwa sebuah tragedi telah menghancurkan keluarganya. Adik perempuannya yang paling muda berumur 15 tahun, Sultana, meninggal karena TBC. Gibran-pun dengan segera kembali ke Boston. Kakaknya, Peter, seorang pelayan toko yang menjadi tumpuan hidup saudara-saudara dan ibunya juga meninggal karena TBC. Ibu yang memuja dan dipujanya, Kamilah, juga telah meninggal dunia karena tumor ganas. Hanya adiknya, Marianna, yang masih tersisa, dan ia dihantui trauma penyakit dan kemiskinan keluarganya. Kematian anggota keluarga yang sangat dicintainya itu terjadi antara bulan Maret dan Juni tahun 1903. Gibran dan adiknya Marianna lantas harus menyangga sebuah keluarga yang tidak lengkap ini dan berusaha keras untuk menjaga kelangsungan hidup mereka.
Di tahun-tahun awal kehidupan mereka berdua, Marianna membiayai penerbitan karya-karya Gibran dengan biaya yang diperoleh dari hasil menjahit di Miss Teahan's Gowns. Berkat kerja keras adiknya itu, Gibran dapat meneruskan karier keseniman dan kesasteraannya yang masih awal.
Pada tahun 1908 Gibran singgah di Paris lagi. Di sini dia hidup senang karena secara rutin menerima cukup uang dari Mary Haskell, seorang wanita kepala sekolah yang berusia 10 tahun lebih tua namun dikenal memiliki hubungan khusus dengannya sejak masih tinggal di Boston. Dari tahun 1909 sampai 1910, dia belajar di School of Beaux Arts dan Julian Academy. Sekembalinya ke Boston, Gibran mendirikan sebuah studio di West Cedar Street di bagian kota Beacon Hill. Ia juga mengambil alih pembiayaan keluarganya.
Pada tahun 1911 Gibran pindah ke kota New York. Di New York Gibran bekerja di apartemen studionya di 51 West Tenth Street, sebuah bangunan yang sengaja didirikan untuk tempat ia melukis dan menulis.
Sebelum tahun 1912 karyanya Broken Wings (Sayap-sayap patah) telah diterbitkan dalam Bahasa Arab. Buku ini bercerita tentang cinta Selma Karami kepada seorang muridnya. Namun, Selma terpaksa menjadi tunangan kemenakannya sendiri sebelum akhirnya menikah dengan suami yang merupakan seorang uskup yang oportunis. Karya Gibran ini sering dianggap sebagai otobiografinya.
Pengaruh Broken Wings terasa sangat besar di dunia Arab karena di sini untuk pertama kalinya wanita-wanita Arab yang dinomorduakan mempunyai kesempatan untuk berbicara bahwa mereka adalah istri yang memiliki hak untuk memprotes struktur kekuasaan yang diatur dalam perkawinan. Cetakan pertama Broken Wings ini dipersembahkan untuk Mary Haskell.
Gaya karya awal Gibran memang tak dapat dilepaskan dari corak Romantisme Arab. Tapi Gibran menyimpangkannya dengan memasukkan unsur pemberontakan pada tradisi yang ia rasa mengungkung kebebasan. Dari New York dia mengajak dan mengilhami versi baru Ramantisme Arab yang memperhalus jiwa manusia dengan spiritualisme. Gibran menunjukkan hal itu dengan pengungkapannya dalam pemikiran Sufistik melalui Iram Dhat al'Imad (Iram, Kota di atas Pilar). Namun ia juga mengkritik nilai sosial arab melalui beberapa karyanya, yang kemudian menuai kritik.
Sebelum tahun 1918, Gibran sudah siap meluncurkan karya pertamanya dalam bahasa Inggris, The Madman, His Parables and Poems. Persahabatan yang erat antara Mary Haskell tergambar dalam The Madman. Setelah The Madman, buku Gibran yang berbahasa Inggris adalah Twenty Drawing, 1919; The Forerunne, 1920; dan The Prophet pada tahun 1923, karya-karya itu adalah suatu cara agar dirinya memahami dunia sebagai orang dewasa dan sebagai seorang siswa sekolah di Libanon, ditulis dalam bahasa Arab, namun tidak dipublikasikan dan kemudian dikembangkan lagi untuk ditulis ulang dalam bahasa Inggris pada tahun 1918-1922.
Sebelum terbitnya The Prophet, hubungan dekat antara Mary dan Gibran mulai tidak jelas. Mary dilamar Florance Minis, seorang pengusaha kaya dari Georgia. Ia menawarkan pada Mary sebuah kehidupan mewah dan mendesaknya agar melepaskan tanggung jawab pendidikannya. Walau hubungan Mary dan Gibran pada mulanya diwarnai dengan berbagai pertimbangan dan diskusi mengenai kemungkinan pernikahan mereka, namun pada dasarnya prinsip-prinsip Mary selama ini banyak yang berbeda dengan Gibran. Ketidaksabaran mereka dalam membina hubungan dekat dan penolakan mereka terhadap ikatan perkawinan dengan jelas telah merasuk ke dalam hubungan tersebut. Akhirnya Mary menerima Florance Minis.
Pada tahun 1920 Gibran mendirikan sebuah asosiasi penulis Arab yang dinamakan Arrabithah Al Alamia. Tujuan ikatan ini merombak kesusastraan Arab yang stagnan. Seiring dengan naiknya reputasi Gibran, ia memiliki banyak pengagum. Salah satunya adalah Barbara Young. Ia mengenal Gibran setelah membaca The Prophet. Barbara Young sendiri merupakan pemilik sebuah toko buku yang sebelumnya menjadi guru bahasa Inggris. Selama 8 tahun tinggal di New York, Barbara Young ikut aktif dalam kegiatan studio Gibran.
Gibran menyelesaikan Sand and Foam tahun 1926, dan Jesus the Son of Man pada tahun 1928. Ia juga membacakan naskah drama tulisannya, Lazarus pada tanggal 6 Januari 1929. Setelah itu Gibran menyelesaikan The Earth Gods pada tahun 1931. Karyanya yang lain The Wanderer, yang selama ini ada di tangan Mary, diterbitkan tanpa nama pada tahun 1932, setelah kematiannya. Juga tulisannya yang lain The Garden of the Propeth.
Pada tanggal 10 April 1931 jam 11.00 malam, Gibran meninggal dunia. Tubuhnya memang telah lama digerogoti sirosis hati dan TBC, tapi selama ini ia menolak untuk dirawat di rumah sakit. Pada pagi hari terakhir itu, dia dibawa ke St. Vincent's Hospital di Greenwich Village.
Hari berikutnya Marianna mengirim telegram ke Mary di Savannah untuk mengabarkan kematian penyair ini. Meskipun harus merawat suaminya yang saat itu juga menderita sakit, Mary tetap menyempatkan diri untuk melayat Gibran. Jenazah Gibran kemudian dikebumikan tanggal 21 Agustus di Ma Sarkis, sebuah biara Carmelite di mana Gibran pernah melakukan ibadah.
Gibran tak punya cerita tentang seks. Cinta, bagi dirinya yang rapuh karena diterkam sakit yang menahun, adalah kejujuran dan kepasrahan, sikap yang mencerminkan ketotalan "sang nabi" dari Libanon ini. Maka, ketika maut menjemputnya melalui sakit, Gibran tersenyum menyambutnya.
Dirangkum dari 10 Kisah Hidup Penulis Dunia & berbagai sumber
Metallica
Metallica, begitulah dunia memanggilnya, band yang masuk dalam scene Underground pada awal tahun 1980-an, Metallica merupakan band mainstream Raksasa Pada masa tersebut, dengan penjualan album yang dahsyat mencapai 57 juta keping di Amerika dan mencapai angka 35 juta keping untuk luar Amerika sungguh prestasi yang dahsyat dan luar biasa,
Awal sejarah band ini dimulai di California pada Tahun 1981, oleh drummer Lars Ulrich dan gitaris/vokalis James Hetfield. bassist Ron McGovny kemudian bergabung dan disusul Dave Mustaine. McGovney hengkang dari band setelah berkonflik dengan Mustaine dan posisinya diganti Cliff Burton. Sifat Mustaine yang agresif dan sering bermasalah dengan obat dan alkohol mengakibatkan dia dipecat oleh Ulrich dan Hetfield. Posisinya diisi Kirk Hammet (ex gitaris Exodus), seorang murid Joe Satriani. Setelah hengkang dari band, Mustaine kemudian membentuk Megadeth.
Band ini mendapatkan namanya sewaktu Ulrich diajak promoter Metal San Francisco, yang bernama Ron Quintana, untuk bantu memilih nama dari daftarnya untuk dijadikan nama majalah barunya. Di dalam daftarnya terdapat nama Metallica. Ulrich menyarankan Metal Mania untuk mejalah Quintana dan memilih Metallica untuk band yang baru dia bentuk. Bersama Megadeth, Slayer dan Anthrax, Metallica merupakan salah satu dari empat tokoh thrash metal pada era 1980an. Keempat band ini menjadi raksasa metal pada jamannya dengan skill dan ciri khasnya masing-masing.
Album pertama "Kill ‘Em All" dirilis pada tahun 1983 bersama perusahaan Megaforce. Album pertama ini menjadi contoh sound dasar Metallica untuk era 1980-an dengan khas vokal dan irama berat dari Hetfield. Di debut albumnya yg pertama ini, vocalnya James Hetfield masih nyaring, teriakanya masih melengking dan tidak berat, sehingga Metalnya terasa lebih “Trash”. Bagi para pendengar “pemula” di dunia Metal mungkin lagu-lagu di album ini kurang bisa dinikmati, meskipun secara melodi terutama di lagu Motorbreath, Jump in the fire dan Seek and Destroy sangat enak buat ”head banger”. Secara keseluruhan, lagu-lagu di album “Kill ‘Em All” berirama cepat dgn permainan gitar Kirk dan gebukan drum Lars yang sangat menonjol.
1984 Metallica merilis albumnya yg kedua yg bertitle “Ride the Lightning”. Yang menarik di album ini….ada satu lagu instrumental berjudul “The Call of Ktulu” dan lagu “slow” yg berjudul “Fade To Black” yang iramanya terasa berbeda dari lagu-lagu Metallica lainnya. Namun secara keseluruhan lagu-lagu di album yg kedua ini masih menonjolkan permainan gitar nan cepat dan gebukan drum yg bertenaga dgn dibarengi teriakan nyaring vokalisnya.Album ketiga dgn title “Muster of Puppets” dirilis tahun 1985 setelah sebelumnya menandatangani
kontrak dengan Elektra Records. Lagu-lagu di album ini meski iramanya lebih nge-thrash dari dua album sebelumnya tapi sangat “enak” buat didengerin dan musiknya bisa digumakan buat nge- “head banger” . Permainan gitarnya Kirk Hammett sangat dahsyat di album ini, teriakannya si James Hetfield juga makin berat bertenaga dan gebukan drum Lars Ulrich terasa lebih cepat menghentak tapi cabikan bass-nya Cliff Burton gak begitu terlihat karena tertutup dgn kedahsyatan permainan gitar Kirk.Metallica mengibarkan bendera setengah tiang ketika tur di Eropa tahun 1986, ketika itu Metallica berduka akibat bassist Cliff Burton meninggal dunia di Swedia dalam kecelakan bus, sepeninggal Cliff posisi Bassist digantikan oleh Jason Newstead.
Memasuki tahun1988 mereka membuat "…And Justice for All" dengan musik yang lebih kompleks dari album sebelumnya. …And Justice for all masuk nominasi Grammy dalam kategori Best Hard Rock/Metal Performance Vocal or Instrument namun penghargaan Grammy tersebut diraih dan jatuh ke tangan Jethro Tull. Pada tahun berikutnya Metallica baru memenangkan Penghargaan Grammy. Imbas dari penghargaan tersebut maka Video “One” diputar terus menerus oleh MTV.
Album berjudul "Metallica" yang sering disebut The Black Album dirilis 1991 dengan mentargetkan audiens yang jauh lebih luas. Album mencapai no. 1 dalam Billboard dan bersertifikasi platinum dalam beberapa minggu. Album ini menjadi album paling populer Metallica dan hit-nya “Enter Sandman” menjadi lagu Metallica yang paling dikenal luas. Dan bahkan menjadi lagu wajib bagi para Fans berat dari Metallica.Kemudian pada "Load" (1996) dan "ReLoad" (1997), tempo metal yang cepat diganti dengan nada gitar yang bluesy, permainan slide guitar dan steel guitar, hurdy-gurdy dan violin.
Sebagian fans menyindir mereka sebagai Poptalica, Alternica dan bahkan Lica saja. Untuk album berikutnya, mereka men-cover lagu-lagu dari sejumlah artis yang mempengaruhi mereka, mulai dari The Misfits, Thin Lizzy, Black Sabbath sampai ke Nick Cave dan Bob Seger. Tahun 1999, Metallica dilantik ke San Francisco Walk of Fame dan pada bulan berikutnya, mereka merekam dua pertunjukan dengan San Francisco Symphony Orchestra dan merilisnya dengan judul S&M.Jason Newsted meninggalkan Metallica pada 2001. Berbagai wawancara mengungkapkan pengunduran dia diakibatkan keinginannya untuk membuat CD dan melakukan tur bersama band pribadinya, Echobrain, namun keinginan tersebut selalu dihadang oleh Hetfield. Setelah Newsted keluar posisinya diganti Robert Trujillo, ex bassist Suicidal Tendencies yang juga pernah main bersama band Ozzy Osbourne, Infectious Grooves dan Black Label Society. Sementara Newsted kemudian bergabung ke band legendaris thrash metal Kanada, Voivod, dan secara menarik menggantikan posisi Trujillo dalam Ozzfest 2003.
Metallica menciptakan kontroversi dengan menuntut Napster yang 300.000 anggotanya memperjual-belikan seluruh katalog lagu Metallica didalam situs. Mereka juga menuntut beberapa universitas yang mengizinkan Napster dioperasikan dalam kampus. Penuntutan ini mengakibatkan ejekan sejumlah situs yang mengatakan band yang mengawali karirnya dari scene underground yang sering memperjual-belikan rekaman bootleg live sudah menjadi mata duitan. Metallica menjawab apa yang mereka permasalahkan adalah perdagangan ilegal materi studio mereka, bukan bootleg live.
Setelah merilis album “Reload”, Metallica cukup lama tidak mengeluarkan album dikarenakan terlalu banyak masalah yang melingkupi para personelnya. Dari keluarnya sang bassist Jason Newsted sampe masuknya sang vokalis James Hetfield ke rehabilitasi ketergantungan obat dan masalah hukum dengan Napster membuat Metallica baru ngerilis album berikutnya di tahun 2003.
Album kedelapan mereka, "St. Anger" (2003), menanjak ke posisi no. 1 dalam chart. Album dibuat kasar dan tak terpoles untuk merespon ke pihak yang klaim Metallica telah kehilangan kekerasan sound mereka. Namun, sound kasar yang tanpa banyak gitar solo ini dikritik fans yang tidak menyukainya. Toko CD bekas dibanjiri CD yang dijual oleh fans yang kecewa. Meskipun dikritik, St. Anger memenangkan Grammy 2004.Tahun 2006, Metallica mengakhiri kerjasama 15 tahun dengan produser Bob Rock dan menjalin kerjasama baru dengan produser legendaris Rick Rubin, yang biasa menangani album Beastie Boys, Red Hot Chili Peppers, Weezer, Audioslave, Slipknot, System of a Down, Johnny Cash, LL Cool J, Jay-Z dan Slayer. Walaupun band ini digosipkan bubar namun eksistensinya tetap ada dan terasa di blanktika musik metal dunia. "Aku salut dengan The Rolling Stones, Black Sabbath, dan Aerosmith yang masih tetap aktif sampai saat ini. Tapi masalahnya adalah musik The Rolling Stones tak 'seberat' musik Metallica, ungkap Lars."Metallica punya potensi untuk terus aktif sampai waktu yang cukup lama, tapi nggak tahu lagi kalau tangan, kaki dan punggungku sudah mulai mengeluh," lanjutnya.
(Berbagai Sumber)
Read More......
Lenin 1870-1924
Bernama lengkap Vladimir Ilyich Ulyanov Lenin Lahir di Simbirsk (kini ganti jadi Ulyanovsk untuk menghormatinya) pada tahun 1870 dia seorang pemimpin politik yang paling bertanggung jawab terhadap berdirinya Komunisme di Rusia. Sebagai penganut Karl Marx yang gigih dan setia, Lenin meletakkan dasar politik yang hanya bisa dibayangkan oleh Karl Marx seorang. Begitu cepatnya Lenin menyebar Komunisme ke seluruh penjuru dunia, dia mesti diakui sebagai salah seorang yang paling berpengaruh dalam sejarah manusia. Ayahnya adalah seorang pegawai negeri biasa yang patuh, akan tetapi kakaknya Alexander adalah seorang radikal yang dijatuhi hukuman mati karena ambil bagian dalam komplotan yang berencana membunuh Tsar.
Menginjak usia dua puluh tiga tahun Lenin sudah menjadi seorang Marxis yang berkobar-kobar. Bulan Desember 1895 dia ditahan oleh pemerintah Tsar karena kegiatan revolusionernya dan dijebloskan ke dalam penjara selama empat belas bulan. Sesudah itu dia dibuang ke Siberia. Selama tiga tahun di Siberia (yang tampaknya tidak digubrisnya sebagai siksaan) dia menikah dengan seorang wanita yang juga berfaham revolusioner dan menulis buku Pertumbuhan Kapitalisme di Rusia.
Masa pembuangannya di Siberia berakhir pada bulan Februari 1900 dan beberapa bulan kemudian Lenin melakukan perjalanan ke Eropa Barat. Tak kurang dari tujuh belas tahun lamanya dia berkelana, menjadi seorang mahaguru revolusioner. Tatkala Partai Buruh Sosial-Demokrat Rusia dimana Lenin jadi anggotanya pecah jadi dua bagian, Lenin menjadi pimpinan pecahan yang lebih besar, Bolsheviks.
Peluang besar didapatkan Lenin tatkala Perang Dunia I pecah, perang ini membawa malapetaka yang begitu besar dan hebat baik di bidang Militer maupun Di sektor ekonomi Rusia. Akibat dari hal tersebut rakyat merasa tidak puas pada sistem pemerintahan yang ada. Puncak dari ketidakpuasan rakyat tersebut pecah pada bulam Maret tahun 1917 kekuasaan Tsar pada saat itu digulingkan, dan untuk sementara waktu tampaknya Rusia dipimpin oleh sebuah Pemerintahan Demokratis.
Begitu mendengar kabar bahwa Tsar telah jatuh maka Lenin cepat kembali ke Rusia, dan sesampainya di tanha air asalnya ia dengan cepat dapat melihat dan mengambil kesimpulan bahwa partai-partai demokratis, walau sudah mendirikan pemerintahan sementara, tidak punya kekuatan yang cukup. Kondisi tersebut sangat baik untuk Partai Komunis yang punya cukup pegangan disiplin kuat untuk menguasai keadaan pada masa itu, walau sebenarnya anggota dari Partai Komunis ini bisa dibilang masih sedikit.
Dengan keyakinan yang besar dan sifat oportunis Lenin, dia mendorong kaum Bolshevik melompat kedepan menggulingkan pemerintahan sementara dan menggantinya dengan pemerintahan Komunis. Percobaan pertama penggulingan kekuasaan pada bulan Juli 1917 tidak berhasil, dan memaksa Lenin bersembunyi, namun pada percobaan penggulingan kekuasaan kedua yang dilakukannya pada bulan November 1917 dia berhasil dan naiklah Lenin menjadi kepala Negara yang baru.
Selaku kepala pemerintahan, Lenin keras tetapi di lain pihak dia amat pragmatis. Mula-mula dia ajukan tekanan yang tak kenal kompromim, adanya masa transisi singkat menuju masyarakat yang ekonominya sepenuhnya berdasar sosialisme. Hal tersebut tidak berjalan sebagaimana mestinya maka Lenin-pun mundur dan mengambil jalan sistem ekonomi campuran kapitalis-sosialistis. Dan hal ini berjalan di Uni Soviet selama beberapa tahun.
Di bulan Mei 1922 Lenin sakit keras sehingga antara serangan sakit itu hingga wafatnya tahun 1924 praktis Lenin tidak bisa berbuat apa-apa. Begitu wafat, jasadnya dengan cermat dibalsem dan dipelihara, dibaringkan di musoleum di Lapangan Merah hingga saat ini.
Ciri penting dari Lenin adalah dia seorang yang cepat bertindak sehingga dialah orang yang mendirikan pemerintahan Komunis di Rusia. Dia menganut ajaran Karl Marx dan menterjemahkannya dalam bentuk tindakan politik praktis yang nyata. Sejak bulan Nopember 1917 telah terjadi ekspansi kekuatan Komunis ke seluruh dunia.
Biarpun arti penting Lenin terletak pada seorang pemimpin politik praktis, Lenin juga menunjang pengaruhnya lewat tulisan-tulisan. Pikiran-pikiran Lenin tidaklah bertentangan dengan Marx tetapi ada perubahan tekanan. Lenin kelewat terpukau oleh taktik-taktik revolusi dan dia merasa punya kelebihan khusus dalam urusan ini. Dia tak henti-hentinya menekankan perlunya penggunaan kekerasan: "Tak ada masalah apa pun dalam hubungan perjuangan kelas dapat diselesaikan tanpa kekerasan," adalah ungkapan khasnya. Marx hanya mengaitkan perlunya kediktatoran proletariat sekali-sekali saja, tetapi Lenin sudah terlalu tergoda dengan itu. Misalnya ucapannya: "Diktator proletariat tak lain dan tak bukan daripada kekuasaan berdasarkan kekerasan yang tak ada batasnya, baik batas hukum maupun batas aturan absolut."
Ide Lenin tentang kediktatoran sesungguhnya lebih penting ketimbang politik ekonominya. Ciri terpokok pemerintahan Soviet bukanlah di bidang politik ekonominya (banyak pemerintahan sosialis di banyak negeri) tetapi ciri pokoknya lebih terletak pada teknik mempertahankan kekuasaan politik untuk jangka waktu tak terbatas. Terhitung sejak saat Lenin hidup, tak ada satu pun pemerintah Komunis di mana pun juga di dunia ini sekali berdiri dengan kokohnya dapat tergulingkan. Dengan pengawasan yang seksama terhadap semua lembaga kekuasaan dalam negeri mass media, bank, gereja, serikat buruh dan lain-lain pemerintahan Komunis tampaknya sudah mengikis adanya kemungkinan-kemungkinan penggulingan pemerintahan. Bisa saja ada titik-titik lemah pada kekuatannya, tetapi tak seorang pun mampu menemukannya.
Jelas Komunisme adalah gerakan besar yang punya arti penting sejarah. Tidaklah jelas benar siapakah yang bisa dianggap paling berpengaruh dalam gerakan ini, Marx atau Lenin. Saya beranggapan Marx punya arti lebih pentirig karena dia mendahului dan mempengaruhi Lenin. Tetapi masih bisa dibantah anggapan ini karena kemampuan politik praktis Lenin merupakan faktor yang amat ruwet dalam hal mendirikan Komunisme di Rusia. Tanpa peranan Lenin, Komunis rasanya mesti menunggu bertahun-tahun untuk punya kesempatan memegang kekuasaan dan akan menghadapi perlawanan yang lebih terorganisir. Karena itu, bukan mustahil tidak bisa berhasil. Dalam hal memantapkan arti penting Lenin, orang jangan lupa betapa singkatnya masa kekuasaan dipegangnya. Juga, berdirinya diktator proletariat di Uni Soviet lebih besar berkat Lenin ketimbang penggantinya, Stalin yang lebih keras.
Sepanjang hidupnya Lenin seorang pekerja keras dan tekun. Dia seorang yang kenamaan dan jumlah buku yang ditulisnya tak kurang dari 55 jilid. Dia mengabdikan seluruh hidupnya untuk tujuan-tujuan revolusi, dan meskipun dia mencintai keluarganya, dia tak mau pekerjaannya terganggu. Ironisnya, biar dia menghabiskan sepenuh umurnya dalam percobaan melenyapkan penindasan, hasil yang dicapainya dari perjuangan adalah penghancuran semua segi kebebasan pribadi.
(dari 100 Tokoh Berpengaruh)
Sid Vicious
Siapa tak kenal dengan pentolan, penyanyi dan Basiss grup musik Punk asal Inggris ini, seorang yang bahkan disebut sebagai legenda bagi penggemarnya, seseorang yang penuh kontroversi dalam hidupnya, kekerasan, anarki dan ketergantungannya terhadap Narkoba membawa hidupnya ke dalam sebuah malapetaka bagi dirinya dan bagi orang-orang yang dicintainya, namun demikian baik secara langsung maupun tidak langsung dia telah memberi andil dalam perkembangan musik dunia.
Dia terlahir dengan nama John Simon Ritchie-Beverley di Kota London inggris pada tanggal 10 Mei 1957 yang kelak lebih dikenal dengan Sid Vicious. Dia terlahir dari rahim seorang ibu yang bernama Anne Randall, Simon kecil adalah anak haram karena dia terlahir tanpa didahului perkawinan yang sah dari kedua orang tuanya. Ketika itu Anne muda jatuh cinta pada seorang lelaki yang bernama John Ritchie pada waktu itu Anne muda masih tinggal di kawasan London sebelah Tenggara. Hubungan mereka berlanjut hingga Anne masuk Angkatan Udara Kerajaan Inggris, merekapun hidup bersama dan tinggal di kawasan Lee Green, dari hubungan itulah Simon kecil lahir. Sungguh malang nasib Simon kecil karena pada saat itu ayahnya John tidak bertanggung jawab atas kelahiran Simon kecil dan malah pergi meninggalkan Anne dan Simon kecil. Simon kecil dibesarkan oleh orang tua tunggal Karena hanya Anne-lah yang Simon miliki. Anne muda sempat lari dari kenyataan, karena ingin lari dari masalah dia pergi ke Spanyol tepatnya ke Ibiza, namun bukannya tenang malah masalah bertambah besar karena Anne benar-benar dililit hutang pada saat itu. Akhirnya dia memutuskan untuk kembali ke London dan tinggal bersama ibunya. Untuk bertahan hidup dan mengurus kehidupannya bersama Simon kecil Anne bekerja di sebuah Pub Jazz kecil.
Masa kecil Simon yang kurang menyenangkan membuat dia menjadi seorang penyendiri (kelak hal ini menjadikan kepribadian dia seorang yang pemberontak dan pembangkang), bagaimana tidak ketika mulai masuk SD di Soho Primary School dia terus-menerus menjadi korban ejekan dari teman- temannya hingga pada akhirnya Simon harus berpindah-pindah sekolah.
Sebenernya setelah itu Simon dan ibunya Anne hampir saja bernasib mujur gara-gara Anne diajak menikah oleh Chris Beverley, seorang pria mapan asal Oxford yang juga berniat mengadopsi Simon . namun untung tak dapat di raih malang tak dapat di tolak begitu Simon akan diadopsi, Chris meninggal karena sakit. Anne yang sudah ganti nama menjadi Anne Beverley-pun sendirian lagi. Tapi kali ini kehidupan mereka lebih mapan karena Chris berasal dari keluarga kaya. Simon pun masuk di sekolah swasta yang mahal.
Bersekolah di sekolah orang kaya tidak membuat kepribadian Simon menjadi lebih baik, sebaliknya malah membentuk Jiwa Simon menjadi pembangkang, dikarenakan dia sudah terlalu muak dengan segala aturan yang super ketat dari sekolah tersebut, malah suatu ketika dia nekat dan cuek bilang sama senior-seniornya bahwa kalau dia sudah tidak percaya lagi sama Tuhan.
Saat usia Simon menginjak 14 tahun kelakuan dia semakin menjadi-jadi, dia mulai melakukan hal-hal aneh di dalam kamarnya, dia suka memakai baju perempuan sambil berkaca. "Tapi gue cuma ngelakuinnya sekitar dua bulan. Gak tau kenapa, gue suka eksperimen dengan seks. Gue nggak tertarik dengan straight sex waktu itu," kata Simon.
Kelakuan Simon yang dianggap aneh dan tidak normal sempat membuat ibunya Anne kebingungan dalam menghadapi Simon, bayangkan saja Simon keluar masuk Sekolahan sampai lima kali padahal di setiap pendaftaran Ibunya Anne harus membayar cukup mahal. Simon pun akhirnya sadar dan memutuskan untuk men-DO-kan dirinya sendiri dan mulai bekerja serabutan. Pekerjaan pertama yang dia lakukan adalah sebagai buruh pabrik, namun pekerjaan itu tidak lama dilakoninya, keinginan Simon untuk bersekolah lagi membawanya ke sekolah fotografi di Hackney College of Futher Education, disinilah Simon bertemu dengan John Lydon (kelak lebih dikenal dengan nama Johnny Rotten) yang kelak menjadi sahabat dekatnya selama bertahun-tahun. Keduanya sangat menggilai dan terobsesi denga jenis musik Glam Rock yang pada saat itu diusung oleh Marc Boland an David Bowie. Saking ngefans-nya Simon pada David Bowie kamar Simon dipenuhi Poster-poster Bowie. Hubungan Simon dan John ini sangat dekat, saking dekatnya John memutuskan untuk tingal di kamar Simon. Semenjak kepindahan Jonh ke tempat Simon mereka jadi lebih sering melakukan hal-hal gila bersama seperti bereksperimen dengan dandanan, Simon asik mengecat kukunya dengan pernis yang mengkilat dan jalan-jalan memakai sandal, sementara John sibuk bikin rambutnya jadi kriwil-kriwil.
Karena kelakuan Simon makin gila, Anne dan Simon melakukan "gencatan senjata". Hasilnya, mereka berdua sepakat untuk berpisah sementara. Simon gantian tinggal sama John di belakang stasiun kereta api. Lewat John pulalah Simon berganti nama menjadi Sid Vicious. Konon, nama Sid diambil dari nama tikus piaraan John. Sementara Vicious dikasih gara-gara tikus itu pernah menggigit tangan bokap John. Jadilah Sid Vicious.
Persahabatan antara keduanya sangat unik, karena kedua sahabat ini saling mengisi, John menularkan sifat humorisnya pada Sid yang penyendiri. Sementara John jadi ketularan cool dan sedikit punya darkside. Namun begitu keduanya punya satu kesamaan, palagi kalau bukan Narkoba. Malah pada satu ketika mereka berdua sempat menegak Speed dalam suatu pesta ketika pesta tersebut di grebek polisi mereka berdua malah menghajar polisi tersebut hingga babak belur dan gigi depannya ompong.
Untuk melanjutkan hidup, mereka berdua bekerja serabutan. Dari kerja direstoran, toko sepatu sampe ngamen di stasiun kereta bawah tanah pun mereka lakoni. Ada yang Lucu soal ngamen di stasiun kereta. Ceritanya Sid udah siap dengan gitar, sementara John sudah siap dengan biolanya. Tapi ada satu masalah. Mereka sama sekali tidak bisa memainkannya. Gila….., yang ada mereka cuma joget-joget sambil megang instrumen itu sambil nyanyiin sebuah lagu dari Alice Cooper berulang-ulang.
Kalo cara-cara diatas masih kurang juga untuk biaya hidup mereka, Sid nggak pernah takut melanggar hukum. Dia nekat jadi bandar narkoba walaupun dalam jumlah yang sedikit. Gilanya lagi, Sid kadang juga nekat nyari duit di bar gay. Dia kadang rela ditanggap kalau lagi mabuk dan dapet duit dari sana.
Pada saat itu Sid dan John juga punya geng yang suka nongkrong di suatu toko clothing di kawasan King’s Road. Toko yang punya nama Sex ini nantinya akan jadi titik awal masuknya Sid ke Sex Pistols. Geng Sid isinya empat orang yang menamakan dirinya Four John. Four John disini adalah karena anggotanya semua bernama John . Seperti yang sudah disebut, Sid punya nama John Simon, terus ada John Lydon, John Wardle dan John Gray.
Pemilik Sex, Malcolm McLaren dan Vivienne Westwood sangat mengerti sekali kalau keempat orang ini gila semua. Mereka benci yang namanya kemewahan dan glamoranya kalangan jet set Inggris. Terus terkadang mereka suka iseng membakar tangan mereka dengan rokok dan hal-hal menyakitkan lainnya.
Pada tahun 1975 pemilik Sex Malcolm Mclaren merombak tokonya selain menjual aksesoroies Punk dia juga menjual Fetish gear dan barang-barang dari kulit asli, dia berniat ingin membuat tokonya laku dan menjadi pusat tongkrongan anak punk di London yang semakin menjamur, dan diapun menjadi pemandu bakat mencari band-band punk yang mau doiorbitkan, pada saat itu dia telah mepunyai beberapa orang cikal bakal sebuah band diantaranya Gitaris Steve Jones, Basiss Glen Matlock dan Drummer Paul Cook, kesemuanya adalah pekerja part time di tokonya Malcolm, Malcolm mempunyai feeling kalau mereka bakal menjadi band yang mempunyai masa depan cerah, namun saat itu Malcolm bingung karena band yang akan di orbitkannya belum mempunyai seorang Frontman. Kebetulan pada saat itu John Lydon sering nongkrong di tokonya Malcolm dan kebetulan pula Malcolm tertarik dengan Atittude yang gila yang dimiliki John Lydon maka diaudisilah John Lydon walau suara John fals tetapi aneh Malcolm justru merima John masuk band. Agar makin Nge-Punk Malcolm mengganti nama John menjadi Johnny Rotten. Maka dengan bergabungnya Johny Rotten Terbentuklah Band yang sungguh fenomenal SEX PISTOLS yang beranggotakan Johny Rotten, Paul Cook, Glen Matlock, dan Steve Jones.
sebenarnya sid adalah seorang Fans berat dari sex Pistols karena sahabatnya adalah salah satu personel dari Pistols. Sid pun berusaha pengen kenal dengan anggota band lainnya. Kayak pengen diakuin, Sid selalu ingin membantu Pistols yang kadang beraksi nggak wajar. Bayangin, ini band nggak mau tampil berdasarkan jadwal. Pengennya langsung tampil dadakan, dan kalo bisa di tempat yang nggak lazim. Tentu saja yang marah adalah pihak keamanan. Kalo sudah gini, Johny dkk sering mengancam akan berbuat rusuh. Nah, kalo udah ada komando rusuh dari Johny, Sid pasti turun tangan bantuin Pistols.
Sayangnya, kelakuan Sid semakin menjurus ke arah brutal. Setiap Pistols manggung, pasti ada keributan. Dan dalangnya pasti Sid Vicious. Dia pernah menghajar orang yang dudukin tempat Vivienne Westwood (temannya, desainer yang juga merancang pakaian di Sex) tanpa bilang-bilang. Entah cari perhatian atau nggak, tapi Sid lantas makin jadi icon buat Pistols. Apalagi dalam press release Pistols ada pernyataan "We Hate Everything". Pers makin yakin kalau Pistols adalah band rusuh.
Di balik serunya kerusuhan Pistols, ternyata band ini punya masalah intern. Siapa yang mengira kalau ternyata sang bassis Glen Matlock tidak disukai samapersonel lainnya. Alasannya karena dia terlalu kalem dan berasal dari kelas menengah. Terus? Ya, ternyata kondisi itu dianggap kurang radikal oleh personel lain.Mereka pun berpikir untuk menendang Glen Matlock keluar. Sejak saat itu masuklah Sid Vicious menjadi Basiss dari Sex Pistols.
Sex Pistols bubar gara-gara Sid Vicious. Sid Vicious yang terlalu dekat dengan pacarnya Nancy Spungen dan kecanduannya pada narkoba yang semakin menjadi-jadi. Kami sudah muak ngeliat tingkah violence-nya. Gara-gara dia juga, konser kami di Winterland berantakan, begitu kata Steve Jones kepada tabloid musik Inggris NME. Udah gitu praktis Steve dan Paul Cook cabut nggak mau ketemu Sid lagi. Sementara Johnny Rotten langsung hilang tanpa kabar. Malcolm sebagai manajer pun udah ngerasa kalo band yang dikelolanya udah nggak mungkin bisa diterusin.
Kejadian tragis terjadi pada awal Oktober 1978 di salah satu hotel di New York, Sid dan Pacarnya Nancy mengisolasi diri di kamar hotel Nomor 100, tiba-tiba pada suatu pagi hari tanggal 12 Oktober 1978 Sid duduk termenung dengan borgol di tangan, sementara di Bathtub kamar mandi jasad Nancy Spungen bersimbah darah, perutnya robek ditusuk pisau. Banyak teori yang muncul seputar kenapa dan sama siapa Nancy terbunuh. Cuma karena hanya Sid yang selalu bersama Nancy seharian dan pisau yang ditemukan adalah milik Sid, tentunya semua orang langsung menuduh Sid sebagai pembunuh.
Sid langsung di bawa ke penjara Rikers Island. Selama empat hari dia ditahan di penjara yang terkenal brutal banget itu. Pengadilan kasus Sid digelar tanggal 13 Oktober 1978. Dia menghadapi tuduhan pembunuhan kelas dua. Dengan hukuman minimum 7 sampai 25 tahun, Sid baru boleh bebas dengan membayar uang jaminan 25 ribu pound. Dan untungnya Virgin Records setia membantunya. Pada 21 November 1978 Sid bebas dengan uang jaminan.
Kalo ada orang yang bener-bener setia menemani Sid selain manajernya di saat-saat genting, pasti lah sang ibu, Anne Beverely, yang udah bela-belain tinggal di New York. Manajer dan ibunya ini melakukan apa aja biar kasus pembunuhan Nancy makin jelas. Anne pun nggak segan-segan menandatangani kontrak dengan New York Post untuk kerjasama peliputan. Sementara Malcolm Mclaren manajer Pistols dilaporkan telah menyewa detektif swasta untuk menyelidiki kematian Nancy Spungen.
Namun semua terlambat. Sid udah kehilangan Nancy. Jiwanya jadi terguncang. Malah, di suatu bar, dia nekat mengancam bunuh diri dengan menyiletkan bohlam pecah ke pergelangannya. Pernah juga Sid mencoba bunuh diri dengan loncat dari jendela hotel gara-gara sakaw karena pada saat itu kecanduan Sid akan Narkoba sangat parah. Untungnya Anne dan Malcolm cepat mencegahnya dan langsung melarikan Sid ke rumah sakit terdekat.
Saking udah kehilangan Nancy dan sakaw, Sid akhirnya ngelakuin kerusuhan lagi di sebuah bar bernama Hurrah’s di New York. Di situ dia terlibat perkelahian dengan seorang cowok gara-gara Sid menggoda pacarnya. Malangnya cowok itu terluka sampe membutuhkan lima jahitan. Nggak heran Sid harus menjalani 55 hari di penjara pada tanggal 9 Desember 1978 sampai dia bebas dengan uang jaminan (lagi) pada 1 Februari 1979.
Hampir dua bulan di penjara ternyata nggak bikin dia sober. Walau dia udah bisa dibilang bersih, tapi keinginan untuk nyuntik tetep besar. So, pas dia keluar penjara, hari itu juga ia menyuntik lengannya dua kali dengan heroin. Wajar aja, karena bukannya dibawa ke tempat yang aman sambil nunggu pengadilan, dia malah dibawa ke pesta temen-temennya. Untuk pertama kalinya Sid nyuntik lagi di tengah malam pas pesta lagi kenceng-kencengnya. Karena udah nggak terbiasa, dia terbangun pukul 3 pagi dan nyuntik untuk kedua kalinya….dan terakhir kali. Setelah itu, Sid OD pada tanggal 2 Februari 1979. Ia meninggal disaksikan ibu dan teman-temannya. Waktu itu ia baru menginjak usia 21 tahun.
Sid Vicious (nama asli: John Simon Ritchie-Beverley, London, 10 Mei 1957 - New York, 2 Februari 1979) adalah penyanyi dan basiss punk asal Inggris yang merupakan anggota band Sex Pistols.
(Dari Wikipedia dan berbagai sumber)

