Komisi Gratis | Bisnis Online Tanpa Modal
Tampilkan postingan dengan label POETRY. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label POETRY. Tampilkan semua postingan

Hidup
(Kahlil Gibran)

Kehidupan  merupakan sebuah pulau di lautan kesepian, dan bagi pulau itu bukit karang yang timbul merupakan harapan, pohon merupakan impian, bunga merupakan keheningan perasaan, dan sungai merupakan damba kehausan.

Hidupmu, wahai, Saudara-saudaraku, laksana pulau yang terpisah dari pulau dan daerah lain. Entah berapa banyak kapal yang bertolak dari pantaimu menuju wilayah lain, entah berapa banyak armada yang berlabuh di pesisirmu, namun engkau tetap pulau yang sunyi, menderita karena pedihnya sepi dan dambaan terhadap kebahagiaan. Engkau tak dikenal oleh sesama insan, lagi pula terpencil dari keakraban dan perhatian.

Saudaraku, kulihat kau duduk di atas bukit emas serta menikmati kekayaanmu, bangga akan hartamu, dan yakin bahwa setiap genggam emas yang kaukumpulkan merupakan mata rantai yang menghubungkan hasrat dan pikiran orang lain dengan dirimu.

Di mata hatiku engkau tampak bagaikan panglima besar yang memimpin balatentara, hendak menggempur benteng musuh. Tetapi setelah kuamati lagi, yang tampak hanya hati hampa belaka, yang tertempel di balik kopor emasmu, bagaikan seekor burung kehausan dalam sangkar emas dengan wadah air yang kosong.

Kulihat engkau, Saudaraku, duduk di atas singgasana agung; di sekelilingmu berdiri rakyatmu yang memuji-muji keagunganmu, menyanyikan lagu penghormatan bagi karyamu yang mengagumkan, memuji kebijaksanaanmu, memandangmu seakan-akan nabi yang mengejawantah, bahkan jiwa mereka melambungkan suka ria sampai ke langit-langit angkasa.Dan ketika engkau memandang kawulamu, terlukislah pada wajahmu kebahagiaan, kekuasaan, dan kejayaan, seakan-akan engkau adalah nyawa bagi raga mereka.
 
Tetapi bila kupandang lagi, tampak engkau seorang diri dalam kesepian, berdiri di samping singgasanamu, menadahkan tangan ke segala arah, seakanakan memohon belas kasihan dan pertolongan dari hantu-hantu yang tak tampak, mengemis perlindungan, karena tersisih dari persahabatan dan kehangatan persaudaraan.

Kulihat dirimu, Saudaraku, yang sedang kasmaran pada wanita jelita, memasrahkan hatimu pada altar kecantikannya. Ketika kulihat ia memandangmu dengan kelembutan dan kasih keibuan, aku berkata dalam hati, "Terpujilah Cinta yang mampu mengisi kesepian pria ini dan mengakrabkan hatinya dengan hati manusia lain."

Namun, bila kuamati lagi, kentara dalam hatimu yang bersalut cinta terdapat hati lain yang kesunyian, sia-sia meratap hendak menyatakan cintanya pada wanita, dan di balik jiwamu yang sarat cinta, terdapat jiwa lain yang hampa, bagaikan awan yang mengembara, sia-sia menjadi titik-titik air mata kekasihmu....

Hidupmu, wahai, Saudaraku, merupakan tempat tinggal sunyi yang terpisah dari wilayah perumahan orang lain, bagaikan ruang tengah rumah yang tertutup dari pandang mata tetangga. Seandainya rumahmu tersaput oleh kegelapan, sinar lampu tetanggamu tak dapat masuk meneranginya. Jika kosong dari persediaan pangan, isi gudang tetanggamu tak dapat mengisinya. Jika rumahmu berdiri di sehamparan gurun, engkau tak dapat memindahkannya ke halaman orang lain, yang telah diolah dan ditanami oleh tangan orang lain. Jika rumahmu berdiri di atas puncak gunung, engkau tak dapat memindahkannya ke lembah, karena lerengnya tak dapat ditempuh oleh kaki manusia.

Kehidupanmu, Saudaraku, diliputi oleh kesunyian, dan jika bukan karena kesepian dan kesunyian itu, engkau bukanlah engkau, dan aku bukanlah aku. Jika bukan karena kesepian dan kesunyian itu, aku akan percaya manakala mendengar suaramu sebagai suaraku, atau manakala aku memandang wajahmu, itulah wajahku sendiri yang tengah memandang cermin.

Read More......

On Love
(Kahlil Gibran)

Then said Almitra, Speak to us of Love. And he raised his head and looked upon the people, and there fell a stillness upon them. And with a great voice he said: When love beckons to you, follow him, Though his ways are hard and steep.

And when his wings enfold you yield to him, Though the sword hidden among his pinions may wound you. And when he speaks to you believe in him, Though his voice may shatter your dreams as the north wind lays waste the garden. For even as love crowns you so shall he crucify you. Even as he is for your growth so is he for your pruning.

Even as he ascends to your height and caresses your tenderest branches that quiver in the sun, So shall he descend to your roots and shake them in their clinging to the earth.

Like sheaves of corn he gathers you unto himself. He threshes you to make you naked. He sifts you to free you from your husks. He grinds you to whiteness. He kneads you until you are pliant; And then he assigns you to his sacred fire, that you may become sacred bread for God's sacred feast.

All these things shall love do unto you that you may know the secrets of your heart, and in that knowledge become a fragment of Life's heart.

But if in your fear you would seek only love's peace and love's pleasure, Then it is better for you that you cover your nakedness and pass out of love's threshing-floor, Into the seasonless world where you shall laugh, but not all of your laughter, and weep, but not all of your tears.

Love gives naught but itself and takes naught but from itself Love possesses not nor would it be possessed; For love is sufficient unto love.

When you love you should not say, 'God is in my heart,' but rather, 'I am in the heart of God.'

And think not you can direct the course of love, for love, if it finds you worthy, directs your course.

Love has no other desire but to fulfil itself. But if you love and must needs have desires, let these be your desires: To melt and be like a running brook that sings its melody to the night.

To know the pain of too much tenderness. To be wounded by your own understanding of love; And to bleed willingly and joyfully.

To wake at dawn with a winged heart and give thanks for another day of loving; To rest at the noon hour and meditate love's ecstasy; To return home at evening tide with gratitude; And then to sleep with a prayer for the beloved in your heart and a song of praise upon your lips.

Read More......

Puisi Persahabatan
(Kahlil Gibran)


 
Dan seorang remaja berkata, Bicaralah pada kami tentang Persahabatan.

Dan dia menjawab,
Sahabat adalah keperluan jiwa, yang mesti dipenuhi.
Dialah ladang hati, yang kau taburi dengan kasih dan kau tuai dengan penuh rasa terima kasih.
Dan dia pulalah naungan dan perapianmu.
Karena kau menghampirinya saat hati lupa dan mencarinya saat jiwa ingin kedamaian.

Bila dia berbicara, mengungkapkan fikirannya, kau tiada takut membisikkan kata "Tidak" di kalbumu sendiri, dan tiada kau menyembunyikan kata "Ya".
Dan bilamana dia diam, hatimu berhenti dari mendengar hatinya, karena tanpa ungkapan kata dalam persahabatan, segala fikiran, hasrat, dan keinginan dilahirkan bersama dan menyatu dengan kegembiraan tiada terkirakan.

Di kala berpisah dengan sahabat, tiadalah kau berdukacita,
Karena yang paling kau kasihi dalam dirinya, mungkin kau nampak lebih jelas dalam ketiadaannya, bagai sebuah gunung bagi seorang pendaki, nampak lebih agung daripada tanah ngarai dataran.

Dan tiada maksud lain dari persahabatan kecuali saling memperkaya roh kejiwaan.
Karena cinta yang mencari sesuatu di luar jangkauan misterinya, bukanlah cinta, tetapi sebuah jala yang ditebarkan hanya menangkap yang tiada diharapkan.

Dan persembahkanlah yang terindah bagi sahabatmu.
Jika dia harus tahu musim surutmu, biarlah dia mengenali pula musim pasangmu.
Gerangan apalah sahabat itu jika kau senantiasa mencarinya untuk sekadar bersama dalam membunuh waktu?
Carilah ia untuk bersama menghidupkan sang waktu!
Karena dialah yang bisa mengisi kekuranganmu, bukan mengisi kekosonganmu.
Dan dalam manisnya persahabatan, biarkanlah ada tawa ria dan kegembiraan..
Karena dalam tetesan kecil embun pagi, hati manusia menemui fajar dan gairah segar kehidupan.


Read More......

Anugerah Cinta
(Kahlil Gibran)

Bersamalah dikau tatkala Sang Maut merenggut umurmu.
Ya, bahkan bersama pula kalian, dalam ingatan sunyi Tuhan.
Namun biarkan ada ruang antara kebersamaan itu, tempat angin surga menari-nari di antaramu.
Berkasih-kasihanlah, namun jangan membelenggu cinta,
biarkan cinta itu bergetak senantiasa, bagaikan air hidup,
yang lincah mengalir antara pantai kedua jiwa.

Saling isilah piala minumanmu, tapi jangan minum dari satu piala.
Saling bagilah rotimu, tapi jangan makan dari pinggan yang sama.
Bernyanyi dan menarilah bersama, dalam segala suka cita.
Hanya biarkanlah masing-masing menghayati ketunggalannya.

Tali rebana masing-masing punya hidup sendiri,
walau lagu yang sama sedang menggetarkannya.
Berikan hatimu, namun jangan saling menguasakannya,
sebab hanya Tangan Kehidupan yang akan mampu mencakupnya.
Tegaklah berjajar, namun jangan terlampau dekat
Bukankah tiang-tiang candi tidak dibangun terlalu rapat?
Dan pohon jati serta pohon cemara,
tiada tumbuh dalam bayangan satu dengan lainnya.


Read More......

Musim Semi
(Kahlil Gibran)


Marilah, sayang, mari berjalan menjelajahi perbukitan,
Salju telah cair dan Kehidupan t'lah jaga dari kantuknya
Kini mengembara menyusur pegunungan dan jurang-jurang.
Mari menapaki jejak Musim Semi, yang menjelang,
Ladang-ladang jauh, dan mendaki puncak-puncak perbukitan
'Tuk menadah ilham dari tempat ketinggian,
Di atas hamparan ngarai nan sejuk kehijauan.

Fajar Musim Semi telah mernbeberkan gaunnya
Dari lipatan penyimpanan ke dalam peti musim Dingin.
Pada pohon persik dan batang sitrus disangkutkan selendangnya,
Yang tampil bertebaran bagai pengantin-pengantin putih
Dalam perhelatan Adat Malam Kedre.

Sulur-sulur daun anggur saling berpelukan bagai kekasih
Air parit pun lincah berlompatan menari ria,
Di sela-sela bebatuan, menyanyikan lagu riang.

Dan. bunga-bunga meletup bermekaran dari jantung alam,
Laksana buih-buih bersembulan, dari kalbu lautan

Kemarilah, sayang: mari mereguk sisa air mata Musim Dingin,
dari piala kelopak bunga lili,
Dan menenteramkan jiwa, dengan gerimis nada-nada
Curahan simfoni burung-burung yang bernyanyi
Dalam gita sukacita. dibius angin mamiri.

Mari duduk di batu besar itu, tempat bunga fiola ungu
Berteduh dalam persembunyian, dan meniru
Kemanisan mereka dalam pertukaran kasih rindu.



Read More......

Senandung Saijah

Aku tak tahu di mana aku akan mati.
Aku melihat samudera luas di pantai selatan ketika datang ke sana dengan ayahku, untuk membuat garam.
Bila ku mati di tengah lautan, dan tubuhku dilempar ke air dalam, ikan hiu berebutan datang.
Berenang mengelilingi mayatku, dan bertanya “siapa antara kita akan melulur tubuh yang turun nun di dalam air?”
Aku tak akan mendengarnya.

Aku tak tahu di mana aku akan mati.
Kulihat terbakar rumah Pak Ansu, dibakarnya sendiri karena ia mata gelap.
Bila ku mati dalam rumah sedang terbakar, kepingan-kepingan kayu berpijar jatuh menimpa mayatku.
Dan di luar rumah orang-orang berteriak melemparkan air pemadam api.
Aku takkan mendengarnya.

Aku tak tahu di mana aku kan mati.
Kulihat Si Unah kecil jatuh dari pohon kelapa, waktu memetik kelapa untuk ibunya.
Bila aku jatuh dari pohon kelapa, mayatku terkapar di kakinya, di dalam semak, seperti si Unah.
Maka ibuku tidak akan menangis, sebab dia sudah tiada.
Tapi orang lain akan berseru “Lihat Saijah di sana!” dengan suara yang keras.
Aku takkan mendengarnya.

Aku tak tahu di mana aku kan mati.
Kulihat mayat Pak Lisu, yang mati karena tuanya, sebab rambutnya sudah putih.
Bila ku mati karena tua, berambut putih, perempuan meratap sekeliling mayatku.
Dan mereka akan menangis keras-keras, seperti perempuan-perempuan menangisi mayat Pak Lisu.
dan juga cucu-cucunya akan menangis, keras sekali.
Aku takkan mendengarnya.

Aku tak tahu di mana aku kan mati.
Banyak orang kulihat di Badur. Mereka dikafani, dan ditanam di dalam tanah.
Bila aku mati di Badur, dan aku ditanam di luar desa, arah ke timur di kaki bukit dengan rumputnya yang tinggi.
maka Adinda akan lewat di sana, tepi sarungnya perlahan mengingsur mendesir rumput, …..
Aku akan mendengarnya.


Max Havelaar-Multatuli

www.unordinary-world.blogspot.com

Read More......

Kujang Kisunda


Hana nguni hana mangké
Tan hana nguni tan hana mangké
Aya baheula, aya ayeuna
Moal aya ayeuna lamun euweuh baheula

Kisunda nu baheula, Kujang nu ayeuna.
Jadi ajén dina diri, Jadi pakarang dina dada,
Geura hudang pikeun tandang nu kiwari
Kujang Kisunda ulah kaséréd ku junti

Pakarang kuring pakarang kujang
Kujang pakarang ti para Hyang
Kujang pakarang beuki dieu beuki rompang
Kagerus waktu, kaséréd jaman

Kamana atuh kuring téang
Pangwaris kujang nu geus rompang
Kasaha atuh kuring bikeun
Kujang rompang wariskeuneun

Kujang Kisunda Bral geura Miang
Geura tandang makalangan.
Nanjeurkeun mangpa’at tur kabeneran.
Pikeun ngawangikeun bumi Pasundan


Bandung 14 Mei 2010

Read More......

Petikan Dawai Terakhir


Rasanya baru kemarin kupetik dawai-dawai kasmaran padamu, kulantunkan kidung asmara pada dunia, atas cinta dan kejujuran bisikan hati. Kupetik nada demi nada, kubisikan sebait kata-kata indah di telingamu, kuhembuskan angan-angan dan impian masa depan, kubawa kau ke alam imajinasi tiada akhir tentang kehidupan antara engkau dan aku. Tak ada nada sumbang kala itu, nada yang kupetik begitu harmonis seiring tarianmu yang gemulai mengikuti ritme alunan petikan dawai asmara.

Bersama kita tertawa, bersama pula kita menangis, bersama kita telusuri jalan berdebu, berliku penuh kerikil, kita berjalan, dan berlari. Kau genggam tangan ini erat, seakan tak ingin kau lepas, kupandang wajahmu yang sayu, sorot matamu pancarkan keindahan, kelembutan bagai seorang dewi kahyangan, lalu kubisikan “lelahkah dirimu?”…..dia hanya tersenyum dan berkata “apalah artinya lelah?, apalah artinya dahaga? Apalah artinya hidup ini? Jika tak lagi bisa disampingmu…..” lalu ku terdiam, beku dan kelu dalam balutan asmara.

Hari ini, kembali kupetik dawai-dawai yang sama namun dengan nada yang berbeda, kulantunkan sebuah lagu hanya untukmu, sebuah lagu kesedihan, sebuah lagu terakhir pelepas rindu. Adakah kau dengar bisikan kerinduan, adakah kau lihat petikan dawai asmara yang kini kupetik. Nada-nada indah ini tak seindah ketika kau iringi dengan tarianmu. Kembali kupetik dawai terakhir, menggema menyisakan duka dan terbawa angin utara, hening ….serangga tak lagi berbisik, hanya suara daun yang gugur terserak berisik melantunkan ratapan kepedihan.

Masih disini, kupetik dawai ini untuk terakhir kalinya, nada kerinduan yang tak kunjung bertepi, meratap andai waktu bisa terulang kembali walau hanya sedetik. Lalu kutatap dalam hening, sebaris nama tergores pada batu yang kusebut nisan.


Bandung 10 Februari 2011

Read More......

Peri Bersayap Kertas

Bulir embun belum pula kering, menggantung diujung daun, bercanda bersama angin tertawa sambut merekahnya pagi. Kamboja riang, bakung tertawa, melati malu-malu tersipu, lihat….lihatlah..! seru anyelir….dia datang bawa hangatnya..!!..kembali anyelir berseru…mari kawan sambut dia…….

Mataku menatap, telingaku mendengar, riuh rendah nyanyian pagi….ramai kicau, semilir berbisik…….kunikmati alunan melodi kehidupan, lalu kukisahkan senduku pada dunia. Kisah satu diantara seribu, kisah duka diantara sejuta.

Ketika itu di hutan cemara, dalam sejuk dibuai teduh ranting daun, kulihat sekelebat bayang indah, walau hanya siluet namun entah…..entah mengapa itu begitu indah, kureka, kubayangkan, kemudian bergetar, menderu,…diantara pintu sang sadar dan pintu sang mimpi ku terlena dalam indahnya seraut wajah… ……tersenyum dan berkata….”mari kemarilah sambut tanganku”……kuraih kugenggam jari-jemari indah itu, kurasakan begitu hangat tak ingin ku lepas lagi, dibawanya aku melintasi pohon-pohon cemara, padang rerumputan dan ilalang, sungai dan bukit bebatuan. Tanpa kata-kata terus ku ikuti dirimu kemanapun kau pergi.

Hingga gagak berseru bersama kepakan sayap yang terkibas……lalu kau lepas genggamanmu terhadapku…………..entah mengapa…tak habis pikir aku dibuatnya……apakah karena aku diam tak berkata-kata?....atau hanya hasrat sesaat yang dirasa?....ohhhh entahlah....kemudian terjatuh aku, tersungkur hingga tulang-tulang rapuh ini terserak….tertunduk, menyesal selalu dan selalu…..apa yang bisa kuperbuat, aku hanyalah bocah tanpa kata, bocah dalam diam tanpa bicara, bocah kelabu tanpa biru.

Kau adalah peri bersayap kertas………….ahhhhh….andai saja kutahu yang kau harapkan adalah sebaris kata-kata, tentu aku akan sekuat tenaga berbicara walau bibir ini beku walau lidah ini kelu membatu. Dengan cara apakah lagi agar kudapat bertemu kembali denganmu wahai peri bersayap kertas…….mungkinkah kau terbang dengan sayap rapuhmu?.......kembali ku meratap dan berkata dalam hati …..”tak mungkin”…..sayapmu bukan untuk terbang wahai peri……sayapmu adalah sayap yang menjadikanmu indah…..bukan…bukan untuk terbang……….ohhhhhhhhhhhhh………….kembali kutelusuri jalan-jalan bukit hutan cemara, berharap apa yang kuharap menjadi nyata…..namun apa gerangan mimpi-mimpi itu kembali menjadi hayalan, terbang, dan terbakar panasnya angan-angan…..hingga kembalilah aku disini…membayang sebuah wajah pada bulir-bulir embun di pekarangan, bayangan yang tak kunjung kutemukan………………..


Bandung 03 Desember 2010


Read More......

Surat Akar Kepada Air

Saat kemarau tak lagi terik, kulantunkan nyanyian asmara pada buana, ku hembuskan nafas cinta pada dunia…ahhhhhh….percuma.. sejatinya untuk siapa aku berbuat seperti itu, buana telah memiliki samudra untuk hilangkan dahaganya, dunia telah memiliki surya untuk menghangatkannya.

Ku coba gapai relung-relung hatiku yang tak lagi bersinar, temaram dan hampir gelap, kualihkan pandangan pada ruang kosong dalam jiwa, dingin kurasakan, kemanakah gerangan penghuninya? Ku bertanya sendiri. Tlah lama penghuninya pergi tanpa pesan untuk sekedar penghilang rindu, dia pergi ….pergi entah kemana.

Hingga sulur-sulur akar ini kian jauh menggapai palung bumi untuk sekedar mencari, mencari dan mencari, ohhhhhhh…namun entah apa yang kucari, galau, resah, tak menentu…apa sebenarnya yang kucari. Sementara hujan tak kunjung hadir, kemarau kian terik kembali datang.

Kembali terbayang wajah air yang sejuk, pelipur lara. Segar terasa dalam buaiannya. Kau dinginkan jiwa yang sesak oleh api-api membara, kau lantunkan kembali melodi jiwa. Ohhhhhhh air …rindukah aku????.....nyatakah ini atau hanya bayangan semu? atau rasa yang tak jelas terhadapmu??

Bingung, meratap, memohon apakah ini jalanku, kembali sulur-sulur akar ini merayap jauh menelusup celah-celah gelap dalam bumi. Hingga akhirnya lelah tanpa harapan, namun ku yakin kaulah sang air tambatan jiwa dan raga. Pengisi ruang kosong dalam jiwa ini, penyejuk dan perisai pongahnya kemarau………ohhhhh…. Dapatkah kau kembali bersamaku?….untuk sekedar merasakan semilir angin utara, atau sekedar bercanda bersama rumput dan serangga. Haruskah terus ku cari dan mencarimu walau sulur-sulur akar ini kian renta?.......jawab…jawablah.!!!!………..ku mohon !!!!….namun hening….coba ku teriakan kebali….jawablah !!!…kumohon !!!….namun hening kembali…hingga parau suara ini terus kuteriakan….namun kembali hening dan hening…dan hening…dan hening……

Read More......

Aku Ingin Pulang


Ketika cahaya tak lagi ada, apakah yang tersisa?
Ketika angin tak lagi berhembus, apakah yang dirasa?
Ketika hati ini hampa, apakah yang bersemayam didalamnya?
Dan ketika semua tak berharga, apakah yang kita punya?

Berat langkah kuseret pada cahaya
Pada angin kumohonkan hilangkan dahaga
Dalam hati kucari setitik makna
Tinggalkan semua lepaskan segalanya

Terbang, lepas, sirna, bersama asa
Tenggelam dalam balutan sang kelam
Terperangkap dalam palung kehidupan
Terhujam rasa tak betepian

Disini ku terdiam dalam rongga malam
Tersisih melayang tak bertuan
Lelah sungguh jenuh kurasa, berontak dan memaksa
Pada jalan-Mu Aku ingin kembali dan pulang



Bandung 19 Juli 2009
Agil





Read More......

Sayap Sayap Patah
(Kahlil Gibran)

Wahai langit
Tanyakan pada-Nya Mengapa Dia menciptakan sekeping hati ini
Begitu rapuh dan mudah terluka
Saat dihadapkan dengan duri-duri cinta Begitu kuat dan kokoh
Saat berselimut cinta dan asa
Mengapa Dia menciptakan rasa sayang dan rindu di dalam hati ini
Mengisi kekosongan di dalamnya Menyisakan kegelisahan akan sosok sang kekasih Menimbulkan segudang tanya
Menghimpun berjuta asa
Memberikan semangat juga meninggalkan kepedihan yang tak terkira
Mengapa Dia menciptakan kegelisahan dalam jiwa
Menghimpit bayangan
Menyesakkan dada
Tak berdaya melawan gejolak yang menerpa
Wahai ilalang
Pernahkan kau merasakan rasa yang begitu menyiksa ini? Mengapa kau hanya diam
Katakan padaku
Sebuah kata yang bisa meredam gejolak jiwa ini
Sesuatu yang dibutuhkan raga ini
Sebagai pengobat rasa sakit yang tak terkendali
Desiran angin membuat berisik dirimu
Seolah ada sesuatu yang kau ucapkan padaku
Aku tak tahu apa maksudmu
Hanya menduga
Bisikanmu mengatakan ada seseorang di balik bukit sana
Menunggumu dengan setia
Menghargai apa arti cinta
Hati terjatuh dan terluka
Merobek malam menoreh seribu duka
Kukepakkan sayap - sayap patahku
Mengikuti hembusan angin yang berlalu
Menancapkan rindu
Di sudut hati yang beku
Dia retak, hancur bagai serpihan cermin
Berserakan
Sebelum hilang diterpa angin
Sambil terduduk lemah Ku coba kembali mengais sisa hati
Bercampur baur dengan debu
Ingin ku rengkuh
Ku gapai kepingan di sudut hati
Hanya bayangan yang ku dapat
Ia menghilang saat mentari turun dari peraduannya
Tak sanggup kukepakkan kembali sayap ini
Ia telah patah
Tertusuk duri yang tajam
Hanya bisa meratap
Meringis
Mencoba menggapai sebuah pegangan


Read More......

Musnah



Tenggelam Dalam Angan
Kuterbang dan Melayang
Hampa Terasa Impian

Mimpi Jadi Hayalan
Tiada Lagi Harapan
Semua Sirna dan Terbang

Sirnalah Semua Sirna

Satu Waktu Kan Kujelang
Semua Mimpi dan Harapan
Walau Hanya Impian



Read More......
 

Readers

Facebook Reader

Check PageRank
Add to Technorati Favorites


My blog is worth $564.54.
How much is your blog worth?